Coretan

Jangan Pergi Lagi, Andira!!!

Jangan Pergi Lagi, Andira…

by Pia Devina

 

"Andira?"

Aku menolehkan kepala, mencari sumber suara yang memanggil namaku. Suara yang familier. Suara yang selalu terdengar di alam bawah sadarku. Suara yang selalu kudamba untuk menjadi nyata... namun tak pernah menjadi nyata sebelumnya.

Di sana, dua meter di hadapanku, berdiri sesosok pria berperawakan tegap bersetelan jas hitam dengan kemeja putih dan dasi merah marun yang menggantung di lehernya. Di sana, lurus di depan mataku, lelaki itu menatapku dengan pandangan yang sama, bola mata yang sama, binar rindu yang sama.

Read more...

A Half Day with This Stranger

A Half Day with This Stranger

by Pia Devina

 

Sayap pesawat tampak kokoh terlihat dari tempatku duduk walaupun pesawat ini masih berdiri di atas landasannya dan belum melakukan boarding. Dari jendela pesawat di sebelah kiriku, aku bisa melihat beberapa kumpulan orang tengah berjalan menuju pesawat ini yang akan berangkat ke Penang, Malaysia.

Saat memikirkan akan menghabiskan libur kuliah semester keduaku selama seminggu di tempat kakakku yang sekarang telah menetap di Penang, hatiku terasa ringan sekali karena merasa sangat gembira dan bersemangat. Rasanya seperti ada burung-burung cantik berseliweran di sekitar tubuhku. Bayangkan, satu minggu terbebas dari mata kuliah yang membuat sakit kepala, tugas mingguan, serentetan quiz, dan dosen-dosen yang… ummm, seperti diktator!

Read more...

Komunikasi itu Mudah?

Berkomunikasi suatu kata yang simpel, ringan, sering terucap dan sering terterdengar. Kitapun selalu mengutamakan komunikasi dalam hidup sehari-hari, dalam bekerja dan tentunya dalam mencari pasangan untuk menjalin sebuah hubungan. Dalam briefing suatu organisasi pun selau digaris bawahi tentang pentingnya komunikasi. Intinya, hidup kita tak mungkin lepas dari yang namanya komunikasi ini.

Read more...

Manila, where the heart found its home

Manila, where the heart found its home…

oleh Pia Devina

 

23 Januari

Flight to Manila, Philippines.

Udara dingin menyapa kulit tanganku yang tidak tertutup blouse magenta-ku. Tidak, dingin yang kurasa bukan berasal dari alam bebas di luar sana, dimana hujan mulai turun membasahi jendela pesawat yang kini membatasi antara aku dan hujan. Gabungan antara suhu di dalam pesawat dengan kegugupan yang melandaku lah yang berhasil membuat tanganku gemetaran.

Read more...