Manila, where the heart found its home

Manila, where the heart found its home…

oleh Pia Devina

 

23 Januari

Flight to Manila, Philippines.

Udara dingin menyapa kulit tanganku yang tidak tertutup blouse magenta-ku. Tidak, dingin yang kurasa bukan berasal dari alam bebas di luar sana, dimana hujan mulai turun membasahi jendela pesawat yang kini membatasi antara aku dan hujan. Gabungan antara suhu di dalam pesawat dengan kegugupan yang melandaku lah yang berhasil membuat tanganku gemetaran.

 

"Coffee, Miss?"

Aku menoleh ke sebelah kananku dengan agak memiringkan kepala, sedikit memajangkan leherku agar aku bisa melihat seseorang yang tengah berbicara kepadaku. Seorang wanita berseragam merah dengan scarf berwarna cream di lehernya, dengan rambut cokelatnya yang digelung rapi di belakang kepalanya, tengah menyunggingkan senyumnya kepadaku.

"No, it's okay. Thanks," jawabku sopan kepada pramugari itu. Seorang wanita yang sepertinya seusiaku, yang duduk di kursi pesawat di sebelah kananku, melirik sekilas ke arahku sebelum menenggelamkan dirinya lagi pada novel Johanna Lindsey dalam pangkuannya.

Aku kembali memerhatikan hamparan warna biru di luar sana, mencoba menangkap pemandangan titik-titik air yang jatuh dengan kecepatan cepat──nyaris tak terkejar oleh pandangan mataku.

Hujan. Presipitasi berwujud cair yang mungkin bukan hal istimewa bagi lebih dari separuh manusia di bumi. Tapi bagiku, hujan selalu menjadi hal yang berhasil menghangatkan perasaanku. Ya, hidrometeor berupa partikel-partikel air itu selalu membuat memoriku tentang seseorang mendominasi benakku.

Haikal. Tetanggaku. Seorang lelaki yang enam tahun lalu telah mengambil hatiku tanpa disadari olehnya. Setiap kali aku mengingat moment itu, senyum di wajahku selalu terbit. Ah, betapapun dekatnya aku dengan dia, atau seberapa jauhnya pun aku dari dia... rasa yang sama hadir di hatiku. Rindu. Aku merindukan lelaki itu.

Aku masih ingat──dan kurasa masih akan selalu ingat──ketika hatiku berputar haluan kepada Haikal, tetanggaku yang saat itu tinggal di samping rumahku selama satu tahun, semenjak aku dan keluargaku tinggal di Purwakarta.

Pertengahan Desember enam tahun yang lalu, aku bertemu dengannya. Bukan suatu pertemuan pertama, karena sesungguhnya aku dan Haikal sudah saling mengenal──hanya sebatas tahu nama dan pertemuan tidak sengaja antar tetangga.

Waktu itu, sekitar jam delapan malam, aku baru pulang dari tempat les. Hujan yang turun deras, membuatku memutuskan untuk pulang ke rumah tidak melalui jalan utama. Memang, di kompleks rumahku ada satu jalan belakang yang tidak terlalu ramai dilewati warganya karena kondisi jalan yang berlubang sana-sini, membentuk kubangan-kubangan air. Tapi jalan belakang itu adalah alternatif jalan tercepat menuju rumahku. Daripada kepalaku semakin pening karena kehujanan, aku memberanikan diri melintasi jalan itu. Namun saat baru memasuki jalan yang tidak terlalu besar itu, aku melihat di ujung jalan ada dua orang laki-laki. Perasaanku tidak enak saat itu, tapi aku juga tidak bisa menjamin bahwa kedua orang di ujung sana itu adalah orang-orang yang berniat buruk kepadaku──entah preman atau apa.

Ya sudah, aku melanjutkan langkahku. Selang berikutnya, aku benar-benar ingin
memaki diriku karena bertindak bodoh dengan memaksakan diri berjalan melalui jalan itu. Dua orang laki-laki itu──yang salah satunya berpostur tubuh jangkung kurus berkaos hitam, sementara yang satunya berperawakan agak gemuk──berjalan mendekatiku dari arah berlawanan.

Hatiku was-was bukan main. Aku sudah mundur selangkah dan bersiap membalikkan tubuhku untuk mengambil langkah seribu saat tiba-tiba kurasakan seseorang meraih pergelangan tangan kiriku. Aku terperanjat nyaris berteriak.

Aku menengadahkan kepala dan melihat Haikal──si tetangga yang tidak terlalu kukenal itu──menatap lurus ke arah dua preman yang akan menggangguku tadi. Jantungku berdebar semakin tidak karuan saat wajah kaku Haikal seketika menyunggingkan senyum dingin ke arah preman-preman itu sambil berkata, "Saya harap kalian enggak berniat ngeganggu cewek ini."

Dan saat kaki kami berjalan bersama cipratan-cipratan air yang kami ciptakan dari langkah kaki kami yang beradu dengan aspal yang tersirami air hujan──masih dengan gengaman tangannya yang melingkari tanganku──aku membiarkan laki-laki berseragam abu-putih dengan backpack hitam yang tersampir di salah satu bahunya itu mencuri hatiku.

 

***

 

23 Januari
Ninoy Aquino International Airport, Philippines.

Aku tiba di arrival gate Terminal 2 sekitar jam tujuh malam waktu setempat. Sambil melangkahkan kakiku, tangan kiriku menggenggam gagang koper berwarna cokelat, sementara sebelah tanganku yang lain sibuk menekan tombol-tombol di BlackBerry-ku yang baru saja kuaktifkan kembali setelah kumatikan selama penerbangan tadi.

From     : Haikal Arifin 
Subject  : Have you arrived? 
Date     : Januari 23, 18:42
To        : Nadira Selena

Udah sampe mana, Nad? So glad you finally visit this country!

Aku tersenyum membaca email dari Haikal──tetanggaku… temanku. Bukan, dia bukan kekasihku.

From    : Nadira Selena
Subject : I’m here!
Date     : Januari 23, 18:56
To        : Haikal Arifin

Tamu cantik dari negeri seberang udah mendarat dengan cantik di Filipina, hahaha! 
Tour guide-nya mana nih?

Aku menertawakan email yang kukirim untuk Haikal. Beginilah hubunganku dengan Haikal-ku. Maksudku… ummm, selama ini──enam tahun terhitung sejak dia ‘menyelamatkanku’ dari preman-preman waktu itu──kami berteman baik. Setelah lulus SMA, aku meneruskan kuliahku di fakultas ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta, sementara Haikal kuliah di fakultas ekonomi di perguruan tinggi yang berbeda dengan tempatku berkuliah. Sekarang Haikal bekerja di Filipina, di Makati, salah satu central business district di negara itu, semenjak setahun yang lalu.

Sejak kejadian ‘penyelamatan’ dulu, kami menjadi berteman baik. Jangan harap ada cerita romantis di antara kami berdua. Karena kami hanya berteman. Sebatas itu.
Sepanjang sejarah pertemanan kami, aku maupun Haikal mempunyai track record dengan para mantan ataupun pacar kami masing-masing. Jadi… hubungan kami memang sebatas teman. Sedekat apapun aku dan dia, tidak akan pernah melewati garis kuning yang bukan bertuliskan police line, tetapi bertuliskan batas pertemanan.

From    : Haikal Arifin 
Subject : Sorry
Date    : Januari 23, 18:58
To        : Nadira Selena

Ah, maaf, aku belum bilang. Sorry, aku enggak bisa jemput kamu. Aku masih ada urusan. Kalau kamu naek taksi ke tempat aku, bisa?

Aku menghentikan langkahku seketika. Astaga, lelaki ini mulai lagi dengan penyakit workaholic-nya. Aku menggigit bibirku karena hampir menangis. Maksudku… boleh kan aku berharap aku dijemput olehnya di bandara ini setelah aku terbang berjam-jam dari Indonesia?

From : Nadira Selena
Subject : I’m here!
Date : Januari 23, 18:56
To : Haikal Arifin

Enggak tau, ah! Aku mau keliling Manila sendiri aja. Aku enggak jadi liburan di sini bareng kamu. Bye.

Tepat ketika aku akan memilih icon untuk mengirimkan emailku itu, aku terhenyak kaget saat seseorang menepuk pundak kiriku.

“Kok tamu cantiknya manyun?”
Aku melongo dengan tampang super kaget. Seorang lelaki berkemeja biru berdiri di hadapanku. Lelaki itu tersenyum lebar ke arahku. “Pasti udah mau marah gara-gara ada yang bilang enggak bisa jemput, ya?”

Butuh beberapa detik agar aku bisa memfilter apa yang seharusnya aku katakan. “Damn you! Dasar bocah nyebelin!” aku berkata sambil terbahak dan memukul pelan lengan kirinya.
Ah, seandainya aku bisa mengatakan, “Aku merindukan kamu,” sambil memeluknya sepenuh hati.

***