Manila, where the heart found its home - Manila, where the heart found its home

23 Januari

Café Juanita, Pasig City, Metro Manila.

Aku terpana memerhatikan desain interior Café Juanita ini. Yang terlintas di kepalaku adalah statement bahwa aku sedang berada di dalam sebuah toko barang antik, bukan di dalam sebuah kafe. Lampu-lampu bernuansa lembut, dengan interior yang dihiasi koleksi pernak-pernik antik, tirai, dan kandilar-kandilar, benar-benar menciptakan atmosfer berbeda dari tempat ini.

“WOW!”

Haikal tertawa melihat responku. “Welcome to Philippines,” ujarnya. “Sekarang, mendingan kamu milih makanan yang ada di menu daripada kamu ngebiarin perut kamu kelaperan. Aku khawatir kamu bakalan melototin tempat ini sampai pagi,” dia terkekeh.

“Enggak gitu juga kali,” sergahku tergelak. “But honestly… I love this place!” seruku kepada lelaki yang duduk di hadapanku.

Haikal lagi-lagi menyunggingkan senyumnya. “Ah, jadi pangkat aku yang ada di daftar paling atas something-or-someone you love tersingkir dengan kafe ini?” candanya dengan menyipitkan matanya.

DEG. 

Rasanya ada bom atom yang dijatuhkan ke dalam rongga dadaku.


***

23 Januari

Astoria Plaza Hotel, Pasig City.

“Makasih untuk makan malamnya, Kal. Aku suka Kare-Kare sama Stick Toffee Pudding-nya,” aku berkata kepada Haikal yang berdiri di hadapanku. Kami berdua berada di depan pintu kamar tempatku menginap di Filipina selama tiga hari ini.

“You’re very welcome. Besok kita jalan-jalan ke Intramuros, ya,” ajaknya seraya tersenyum. “Kamu masuk gih, terus cepetan ganti baju, ntar masuk angin.”
Refleks, aku memerhatikan bagian depan blouse-ku yang agak basah karena kehujanan saat tadi kami keluar dari Café Juanita. “Dikit doang kok basahnya.”

“Rambut kamu juga basah, tuh,” Haikal menjawab, tidak mau kalah. “Salah sendiri kamu parkirnya jauh, enggak di depan pintu kafenya.”

Haikal tergelak. “Tempat parkirnya kan penuh tadi,” jawabnya membela diri. “Udah ah, susah ngedebat kamu. Mending sekarang kamu istirahat. Aku balik dulu,” lanjutnya, Aku menganggukkan kepala, lalu mengulurkan tangan kananku ke arahnya, yang
ternyata dibalas dengan uluran tangan kanannya.

“Apaan?” tanyaku tertawa. “Maksud aku, siniin kopernya,” aku melepaskan tangan Haikal dari genggamanku──dia tidak tau bagaimana riuhnya perasaanku selama beberapa jam ini gara-gara dia. “Koper,” kataku lagi sambil menunjuk koper yang gagangnya berada dalam genggaman tangan kiri Haikal.

“Oh,” Haikal membulatkan bibirnya. Dia menyerahkan gagangan koperku kepadaku. “Goodnight, then,” dia berpamitan.

“Sampai ketemu besok,” jawabku.

Haikal pun berlalu, sementara aku hanya bisa mematung memandanginya berjalan menjauhiku hingga sosoknya menghilang dari pandanganku.

Aku memutar tubuhku seratus delapan puluh derajat, membuka kunci pintu kamar dan bergegas masuk ke dalam. Aku membiarkan koperku tergeletak begitu saja di atas karpet, sementara aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur berseprai hijau terang dengan selimut cokelat yang tersampir di tigaperempat bagian tempat tidur. Aku memejamkan mataku──bukan untuk tidur, hanya mencoba untuk mengendalikan pikiranku sendiri.

Hanya derap air hujan di luar sana yang kini menemaniku dalam kegundahan akan keputusanku──keputusan akan masa depanku.

Iya… dua bulan lagi aku akan bertunangan dengan pacarku, Putra, lelaki yang telah menjabat sebagai pacarku selama lebih dari setahun terakhir. Akan tetapi… pada kenyataannya, hatiku tidak pernah seutuhnya kuberikan untuk Putra. Karena sesungguhnya, ada seseorang yang telah memiliki hatiku… jauh sebelum Putra masuk ke dalam kehidupanku.


***