Manila, where the heart found its home - Manila, where the heart found its home

24 Januari

Intramuros.

"Gimana kerjaan kamu di Makati?" aku bertanya pada Haikal yang kini berjalan di sampingku. Kami berdua melangkah keluar dari Plaza Mexico Station, tempat Pasig River Ferry yang kami tumpangi tadi berhenti. Kami lalu berjalan menuju Plaza Mexico, Plaza Espanan dan crumbling skeleton Intendencia──sebuah rumah pada periode kejayaan Spanyol yang kini pada abad kedua puluh telah berubah menjadi Central Bank.

Intramuros atau yang lebih dikenal dengan Walled City merupakan distrik tertua di Manila yang lekat dengan sejarah periode kolonial Spanyol. Tempat ini terletak di Manila Bay, sebelah selatan sungai Pasig. Tembok-tembok kokoh yang merupakan sisa-sisa sejarah abad ke-16, sekarang telah menjadi pusat kota administrasi Manila.

"Oke-oke aja," jawab Haikal. "Cuma tingkat stressor di Philippine Stock Exchange agak lumayan."
"Awas. Ntar cepet tua gara-gara stress mikirin kerjaan," candaku.

Haikal tertawa. "Kerjaan kamu sendiri... gimana? Asik dong pasti jadi reporter?" tanya Haikal kemudian. Ia membenarkan sedikit letak payung transparan yang digenggamnya agar meminimalisir tetesan air hujan yang ingin menyergapku.

"Asik," jawabku seadanya, lalu otomatis tersenyum. "Kenapa ketawa?" tanya Haikal.
"Lucu aja, kita pake payung. Kamu yang bawa payung itu, tepatnya," ocehku.

Haikal balas tertawa. "Funny but so damn good. Udah lama kita enggak jalan berdua pas lagi hujan kayak gini, kan?"

Aku membeku mendengar ucapan Haikal.
"Ayo kita ke Fort Santiago," ajaknya kemudian kepadaku. Iya, kepadaku──aku yang tengah sekuat tenaga mengatur kekusutan perasaanku sendiri.

***

24 Januari

Astoria Plaza Hotel, Pasig City.

What the hell am I doing?

Aku mengguyur kepalaku dengan air shower, berusaha untuk mendinginkan kepalaku──mengembalikan kewarasanku. Kepalaku berdenyut, rasanya hampir meledak.

Seharusnya aku menempelkan kertas post it di keningku untuk mengingatkanku akan tujuan utama kedatanganku ke Filipina: untuk memberitahu Haikal bahwa aku, temannya ini, akan bertunangan. Seharusnya aku mengatakan hal itu dari awal kedatanganku, bukannya malah terbuai dengan liburanku──yang semuanya kuhabiskan bersama Haikal──dengan melupakan eksistensi Putra di dalam hari-hariku.

Tidak. Ini tidak benar. Aku harus memberitahu Haikal. Kalau perlu, besok pagi saat dia baru menginjakkan kakinya di depan pintu kamarku untuk menjemputku, hal pertama yang akan kukatakan kepadanya adalah tentang rencana pertunanganku.

Baru beberapa detik aku membulatkan niatku itu, rasanya hatiku seketika menciut──seperti balon udara yang kehabisan gas hidrogennya. Saat memandangi tetesan- tetesan air yang jatuh dari keran shower, seketika saja aku mengingat kebersamaanku dengan Haikal hari ini. Aku dan dia di antara hujan… berjalan bersama. Hanya kami berdua.

***