Manila, where the heart found its home - Manila, where the heart found its home

25 Januari

Rizal Park.

Jam setengah delapan malam.
Aku mengedarkan pandanganku, memperhatikan hiruk pikuk pengunjung yang mendatangi Rizal Park──salah satu taman terbesar di Asia tenggara, yang dimulai dari Taft Avenue hingga Manila Bay.

Dari tempatku berdiri, aku melihat warna warni sorot lampu di berbagai penjuru.
Ternyata tempat ini tengah menyuguhkan pertunjukan air mancur menari──waterworks, yang diiringi musik serta lagu. “Kal, ini keren banget!” aku tidak bisa menyembunyikan kekagumanku, sementara Haikal hanya terkekeh melihat tingkahku.

“Udah aku bilang, kamu butuh cuti lama dari kerjaan kamu buat stay di sini. Hmmm… at least dua minggu lah,” ujarnya seraya menyipitkan matanya.

Aku mendelik galak ke arahnya. “Tapi kalau ntar aku dipecat, kamu yang nanggung biaya hidup aku, ya!” balasku sambil tergelak.

Haikal tertawa, sementara aku baru menyadari kesalahan ucapanku.
If he were to bear the burden of my life, wouldn’t that mean… that he should be my… husband?

Aku menggelengkan kepalaku saat pikiran itu melintas di kepalaku. Aku harus menyingkirkan pikiran gila itu.

“Pusing kayaknya kalau nanggung kamu. Liat nih,” canda Haikal. Ia menunjuk kantong-kantong belanjaan yang digenggamnya──barang-barang belanjaanku selama kami pergi sepanjang hari ini, termasuk saat kami mengunjungi Ayala Center yang banyak dipenuhi pertokoan di segala penjurunya.

Ternyata Haikal tidak menyadari keganjilan dalam sikapku beberapa detik yang lalu. Syukurlah.
“Anyway, thanks for today, Mr. Tour Guide,” kataku untuk mengalihkan pembicaraan. “Untuk Ayala Museum dan Ayala Triangle Park-nya, juga untuk Manila Ba y Walk-nya… juga…”

“Eh,” Haikal tiba-tiba memindahkan beberapa kantong belanjaan dari genggaman
tangan kanannya ke tangan kirinya, kemudian meletakkan telapak tangan kanannya itu di atas kepalaku. “Hujan, Nad. Ayo cepetan kita balik!” serunya.

Selama dua detik, aku terbengong. Baru saat saraf sensorikku dapat bekerja kembali, aku menyadari tetesan-tetesan air hujan sudah membasahi pipiku.

Kemudian, aku dan Haikal berlari menerobos hujan yang mulai deras. Dengan tawa yang teruntai di antara kami, aku meninggalkan gundah yang tengah kurasa… dan melupakan apa yang seharusnya kukatakan kepada Haikal hari ini.

***

25 Januari
Astoria Plaza Hotel, Pasig City.

Gundah yang tadi sempat lenyap dari pikiran dan perasaanku, nyatanya kembali lagi──tepat setelah Haikal mengantarku ke tempat aku menginap, lalu berpamitan pulang.

“Seru?”

Tenggorokanku tercekat. Rasanya ada ratusan duri yang menyangkut di sana. “Seru,” jawabku berusaha sesantai mungkin. Aku hanya bisa berdoa agar Putra──lelaki yang sekarang sedang berbicara denganku di telepon──memercayai ucapanku.

Putra tahu bahwa aku pergi ke Filipina untuk berlibur. Awalnya, dia juga akan ikut. Tetapi pekerjaannya di salah satu perusahaan konsultan, membuatnya tidak bisa meninggalkan pekerjaannya itu. Akhirnya aku tetap pergi sendiri karena tiket penerbangannya sudah kupesan dari jauh-jauh hari, sementara tiket milik Putra tidak jadi dipakai. Awalnya, aku berencana mengenalkan Putra kepada Haikal secara langsung untuk pertama kalinya saat kami berdua mengunjungi Haikal di Filipina.

Iya… selama ini Haikal mengetahui Putra dari cerita-ceritaku melalu email juga telepon. Yang tidak dia ketahui adalah rencana pertunanganku dengan Putra dua bulan lagi. Sementara Putra… dia tidak mengetahui bahwa yang kumaksud dengan ‘teman semasa SMA yang sekarang stay di Filipina’ adalah seorang lelaki bernama Haikal. Putra memang tidak pernah membahasnya… karena… karena kupikir, dia berpikiran bahwa teman lama yang kumaksud adalah seorang perempuan.

“Besok aku jemput kamu di bandara ya, Nad,” Putra berbicara dengan lembut dari seberang sana. “Aku kangen kamu. I wanna met you soon… aku pengen kita berdua cepet- cepet nyiapin kebutuhan untuk acara pertunangan kita nanti.”

DEG.

Rasanya ada pisau tajam yang mengiris hatiku hingga berdarah.

***