Manila, where the heart found its home - Manila, where the heart found its home

26 Januari

Ninoy Aquino International Airport.

"Have a safe flight, Nad."

Aku memaksakan diri untuk tersenyum, namun tidak menjawab. Aku berusaha menyingkirkan getir yang mungkin terlukis dari suaraku.

"Nanti kamu cuti yang agak lama, biar kita bisa jalan-jalan ke banyak tempat. Pantai, mungkin," Haikal berkata penuh semangat, dengan background rintik hujan di luar sana, yang terlihat dari jendela kaca berukuran besar di belakang tubuhnya.

Aku tahu aku tidak bisa diam lebih lama... karena aku telah memutuskan.
Adanya kamu dalam hidup aku, bikin aku ingin selalu berusaha ngeraih mimpi-mimpi aku. Dan di dalam setiap mimpi aku itu... ada kamu...

Bulir air mataku menggantung di sudut-sudut mataku. Apa yang diucapkan Putra tadi malam, menjungkirbalikkan dinding pertahanan perasaanku. Aku menyayangi lelaki itu... lelaki yang telah tulus mencintaiku selama lebih dari setahun terakhir. Tapi nyatanya perasaanku kepadanya tidak pernah sanggup membobol benteng tinggi pembentuk ruang di dalam hatiku──ruang yang kubangun hanya untuk seseorang yang ada di hadapanku.

"Kenapa diem aja?"

Haikal memiringkan sedikit kepalanya, mencoba melihat wajahku yang tertunduk menatap lantai. "Pasti kamu sedih gara-gara masih kangen sama aku, ya?" tanyanya dengan nada jahil.

Aku mencoba ikut tersenyum dengan kepala masih tertunduk sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mendongakkan kepala.

"Kamu beneran sedih?" Haikal masih meledekku saat melihat wajahku yang mungkin dengan jelas menggambarkan kesedihan──satu kesedihan yang mungkin tidak ia duga apa alasannya.

Tepat saat aku akan membuka mulutku untuk berbicara, suara seorang wanita menggema dari speaker di bandara ini. Penerbanganku ke Jakarta.

Ah... mungkinkah ini pertanda agar aku mendekap perasaanku ini tanpa harus dia ketahui?

"Aku... balik sekarang, ya," kalimat itu yang terucap, bukan tentang perasaan yang sesungguhnya menggenangi isi hatiku selama ini.

Aku berdiri, disusul dengan Haikal yang ikut berdiri, lalu menyerahkan gagang koper milikku kepadaku. "I'll miss you, Nad," ujarnya dengan seutas senyum hangat yang tergambar di wajahnya.

Oh Tuhan, rasanya hatiku teriris-iris. Bagaimana caranya aku memberitahu Haikal bahwa aku mencintainya? Bagaimana caranya aku memberitahu dirinya bahwa aku akan bertunangan dengan orang lain? Walaupun… pertanyaan itu adalah satu kenyataan yang mungkin tidak akan mengubah apapun… karena Haikal tidak pernah memiliki rasa yang sama dengan apa yang kumiliki untuknya.

Haikal menepuk lembut puncak kepalaku dan berkata, "Jangan bandel, ya..."
Runtuh sudah usahaku untuk tidak mengeluarkan air mata di hadapannya. Aku tidak peduli bila akhirnya air mata yang tumpah di pipiku sama derasnya dengan hujan yang kini turun di luar sana.

"Nah, kan, tiba-tiba nangis…"
Aku tersenyum. Ingin rasanya aku memintanya untuk memelukku, memintaku untuk tetap berada di sisinya... sebagai...

"Ya udah sana, nanti kamu ketinggalan pesawat."
Saat menatap bola mata Haikal yang riang... yang selalu memberi tawa untukku... rasanya aku benar-benar ingin menghambur dalam dekapannya dan tenggelam bersama tangisku di sana. Namun detik ini juga, aku merasa ada tembok tinggi kokoh yang berdiri di antara kami berdua.
Putra. Iya... aku tidak bisa menyakiti Putra. Dia sedang menungguku...

Aku kemudian merogoh salah satu saku coat-ku, mengeluarkan BlackBerry-ku dari dalamnya, kemudian menonaktifkan BlackBerry-ku itu. Aku harus mengatakannya. Dan setelah semua yang ingin kuucapkan itu terutarakan, aku butuh waktu untuk sendirian.

Haikal memerhatikan gerak-gerikku tanpa mencurigai apapun──tanpa mengetahui apa yang akan aku katakan kepadanya.

Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Aku akan bertunangan dengan Putra… dua bulan lagi. Aku... aku akan menikah dengan orang lain, Kal..."

Aku tidak berani meneruskan ucapanku, juga tidak berani menatap Haikal. Aku hanya memeluk Haikal sekilas, kemudian melangkahkan kakiku menjauh darinya, mengabaikan samar suaranya yang memanggil namaku. Aku mencoba meninggalkan perasaanku di sini, di Filipina… di satu negeri dimana hatiku berada di rumahnya──tempat Haikal berada──bersama dengan sang hujan, yang akan selalu membuatku teringat akan Haikal-ku.

***