Manila, where the heart found its home - Manila, where the heart found its home

1 Februari
Purwakarta.

“Aku takut kehilangan kamu…”
Tanganku yang memegang secangkir teh hangat bergetar setelah mendengarkan apa yang baru diucapkan lelaki yang duduk terpaku di hadapanku, di teras rumahku.

“Aku… selama ini aku enggak sadar kalau aku takut kehilangan kamu. Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu kamu bilang kamu berencana nikah dengan Putra… aku sadar-sesadar-sadarnya… kalau aku takut kehilangan kamu.”

Haikal memandang lurus ke arahku. Dia tampak letih setelah terbang beberapa jam dari Manila ke Jakarta, lalu menghabiskan dua jam perjalanan lagi menuju Purwakarta dengan menggunakan bus. Dia datang untuk menemuiku.

Aku membeku. Rongga pernapasanku terasa terkunci dengan sebongkah batu besar. Dadaku sesak. Rasa ngilu menjalar di seluruh nadiku.

“Aku… udah terlambat, Nad?” tanyanya lirih.
Aku membuang pandanganku darinya, berusaha terfokus memperhatikan derap hujan yang membasahi rerumputuan di depanku. Aku menghindari tatapan sedihnya yang terasa sanggup menghunus hatiku.

“Correct me if I’m wrong… tapi… dari cara kamu ngasih tau aku waktu di bandara, kenapa aku ngerasa kamu sedih, Nad? Kenapa kamu enggak ngasih tau kabar pertunangan kamu… dengan ceria? Dengan tawanya kamu?”

Aku terdiam. Ada jeda lama di antara kami.

“Nad… apa aku bener-bener udah terlambat?” Haikal mengulangi pertanyaannya. Ketika aku menoleh ke arahnya dan akan menjawab pertanyaannya, sebuah sedan
hitam meluncur masuk ke bagian depan garasi rumahku.

Aku dan Haikal melihat ke arah sana… ke arah dimana sesosok lelaki baru saja turun dari mobilnya. Lelaki itu tersenyum hangat kepadaku, kemudian menganggukkan kepalanya dengan ramah ke arah Haikal.

“Selamat sore,” ucap lelaki yang telah berada di dekat kursi tempat Haikal duduk. Rasanya kepalaku dihantam palu. Semua sistem di tubuhku terasa bagai benang kusut. “Ini siapa, Nad?” tanya lelaki itu dengan nada ramah.

Aku menghela napas berat, lalu berdiri mendekati lelaki itu. Haikal ikut berdiri dengan ragu. “Putra… ini Haikal,” aku berkata dengan suara tercekat. Rasanya aku hampir menangis. Tapi aku tahu, saat ini aku harus mengambil keputusan… keputusan yang akan menyakiti seseorang… atau dua orang.

Haikal memandangiku dengan risau di rona wajahnya.
“Haikal ini temen aku dari SMA. Dulu dia tetangga aku yang tinggal di deket rumah orang tua aku,” setengah mati aku berusaha menetralkan nada bicaraku kepada Putra──tanpa melihat ke arahnya.

“Dan Haikal… ini Putra...”
Oh Tuhan… inikah jawaban yang akan kuberikan?
“Ini… Putra…,” aku berusaha mengambil satu napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan, “Putra, tunangan aku… calon suami aku.”

Di antara derasnya hujan yang menabrak permukaan bumi, aku menyakiti hati seseorang yang paling kusayangi.

Aku hanya berharap, Haikal bisa mengerti dengan keputusanku. Aku tidak bisa menyakiti Putra. Dan aku… aku berharap hubungan pertemananku dengan Haikal bisa baik-baik saja.

Iya, hanya itu harapanku. Harapanku di antara hujan… yang selalu menjadi tali pengikat di antara aku dan Haikal.

THE END