Manila, where the heart found its home

Manila, where the heart found its home…

oleh Pia Devina

 

23 Januari

Flight to Manila, Philippines.

Udara dingin menyapa kulit tanganku yang tidak tertutup blouse magenta-ku. Tidak, dingin yang kurasa bukan berasal dari alam bebas di luar sana, dimana hujan mulai turun membasahi jendela pesawat yang kini membatasi antara aku dan hujan. Gabungan antara suhu di dalam pesawat dengan kegugupan yang melandaku lah yang berhasil membuat tanganku gemetaran.

 

"Coffee, Miss?"

Aku menoleh ke sebelah kananku dengan agak memiringkan kepala, sedikit memajangkan leherku agar aku bisa melihat seseorang yang tengah berbicara kepadaku. Seorang wanita berseragam merah dengan scarf berwarna cream di lehernya, dengan rambut cokelatnya yang digelung rapi di belakang kepalanya, tengah menyunggingkan senyumnya kepadaku.

"No, it's okay. Thanks," jawabku sopan kepada pramugari itu. Seorang wanita yang sepertinya seusiaku, yang duduk di kursi pesawat di sebelah kananku, melirik sekilas ke arahku sebelum menenggelamkan dirinya lagi pada novel Johanna Lindsey dalam pangkuannya.

Aku kembali memerhatikan hamparan warna biru di luar sana, mencoba menangkap pemandangan titik-titik air yang jatuh dengan kecepatan cepat──nyaris tak terkejar oleh pandangan mataku.

Hujan. Presipitasi berwujud cair yang mungkin bukan hal istimewa bagi lebih dari separuh manusia di bumi. Tapi bagiku, hujan selalu menjadi hal yang berhasil menghangatkan perasaanku. Ya, hidrometeor berupa partikel-partikel air itu selalu membuat memoriku tentang seseorang mendominasi benakku.

Haikal. Tetanggaku. Seorang lelaki yang enam tahun lalu telah mengambil hatiku tanpa disadari olehnya. Setiap kali aku mengingat moment itu, senyum di wajahku selalu terbit. Ah, betapapun dekatnya aku dengan dia, atau seberapa jauhnya pun aku dari dia... rasa yang sama hadir di hatiku. Rindu. Aku merindukan lelaki itu.

Aku masih ingat──dan kurasa masih akan selalu ingat──ketika hatiku berputar haluan kepada Haikal, tetanggaku yang saat itu tinggal di samping rumahku selama satu tahun, semenjak aku dan keluargaku tinggal di Purwakarta.

Pertengahan Desember enam tahun yang lalu, aku bertemu dengannya. Bukan suatu pertemuan pertama, karena sesungguhnya aku dan Haikal sudah saling mengenal──hanya sebatas tahu nama dan pertemuan tidak sengaja antar tetangga.

Waktu itu, sekitar jam delapan malam, aku baru pulang dari tempat les. Hujan yang turun deras, membuatku memutuskan untuk pulang ke rumah tidak melalui jalan utama. Memang, di kompleks rumahku ada satu jalan belakang yang tidak terlalu ramai dilewati warganya karena kondisi jalan yang berlubang sana-sini, membentuk kubangan-kubangan air. Tapi jalan belakang itu adalah alternatif jalan tercepat menuju rumahku. Daripada kepalaku semakin pening karena kehujanan, aku memberanikan diri melintasi jalan itu. Namun saat baru memasuki jalan yang tidak terlalu besar itu, aku melihat di ujung jalan ada dua orang laki-laki. Perasaanku tidak enak saat itu, tapi aku juga tidak bisa menjamin bahwa kedua orang di ujung sana itu adalah orang-orang yang berniat buruk kepadaku──entah preman atau apa.

Ya sudah, aku melanjutkan langkahku. Selang berikutnya, aku benar-benar ingin
memaki diriku karena bertindak bodoh dengan memaksakan diri berjalan melalui jalan itu. Dua orang laki-laki itu──yang salah satunya berpostur tubuh jangkung kurus berkaos hitam, sementara yang satunya berperawakan agak gemuk──berjalan mendekatiku dari arah berlawanan.

Hatiku was-was bukan main. Aku sudah mundur selangkah dan bersiap membalikkan tubuhku untuk mengambil langkah seribu saat tiba-tiba kurasakan seseorang meraih pergelangan tangan kiriku. Aku terperanjat nyaris berteriak.

Aku menengadahkan kepala dan melihat Haikal──si tetangga yang tidak terlalu kukenal itu──menatap lurus ke arah dua preman yang akan menggangguku tadi. Jantungku berdebar semakin tidak karuan saat wajah kaku Haikal seketika menyunggingkan senyum dingin ke arah preman-preman itu sambil berkata, "Saya harap kalian enggak berniat ngeganggu cewek ini."

Dan saat kaki kami berjalan bersama cipratan-cipratan air yang kami ciptakan dari langkah kaki kami yang beradu dengan aspal yang tersirami air hujan──masih dengan gengaman tangannya yang melingkari tanganku──aku membiarkan laki-laki berseragam abu-putih dengan backpack hitam yang tersampir di salah satu bahunya itu mencuri hatiku.

 

***

 

23 Januari
Ninoy Aquino International Airport, Philippines.

Aku tiba di arrival gate Terminal 2 sekitar jam tujuh malam waktu setempat. Sambil melangkahkan kakiku, tangan kiriku menggenggam gagang koper berwarna cokelat, sementara sebelah tanganku yang lain sibuk menekan tombol-tombol di BlackBerry-ku yang baru saja kuaktifkan kembali setelah kumatikan selama penerbangan tadi.

From     : Haikal Arifin 
Subject  : Have you arrived? 
Date     : Januari 23, 18:42
To        : Nadira Selena

Udah sampe mana, Nad? So glad you finally visit this country!

Aku tersenyum membaca email dari Haikal──tetanggaku… temanku. Bukan, dia bukan kekasihku.

From    : Nadira Selena
Subject : I’m here!
Date     : Januari 23, 18:56
To        : Haikal Arifin

Tamu cantik dari negeri seberang udah mendarat dengan cantik di Filipina, hahaha! 
Tour guide-nya mana nih?

Aku menertawakan email yang kukirim untuk Haikal. Beginilah hubunganku dengan Haikal-ku. Maksudku… ummm, selama ini──enam tahun terhitung sejak dia ‘menyelamatkanku’ dari preman-preman waktu itu──kami berteman baik. Setelah lulus SMA, aku meneruskan kuliahku di fakultas ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta, sementara Haikal kuliah di fakultas ekonomi di perguruan tinggi yang berbeda dengan tempatku berkuliah. Sekarang Haikal bekerja di Filipina, di Makati, salah satu central business district di negara itu, semenjak setahun yang lalu.

Sejak kejadian ‘penyelamatan’ dulu, kami menjadi berteman baik. Jangan harap ada cerita romantis di antara kami berdua. Karena kami hanya berteman. Sebatas itu.
Sepanjang sejarah pertemanan kami, aku maupun Haikal mempunyai track record dengan para mantan ataupun pacar kami masing-masing. Jadi… hubungan kami memang sebatas teman. Sedekat apapun aku dan dia, tidak akan pernah melewati garis kuning yang bukan bertuliskan police line, tetapi bertuliskan batas pertemanan.

From    : Haikal Arifin 
Subject : Sorry
Date    : Januari 23, 18:58
To        : Nadira Selena

Ah, maaf, aku belum bilang. Sorry, aku enggak bisa jemput kamu. Aku masih ada urusan. Kalau kamu naek taksi ke tempat aku, bisa?

Aku menghentikan langkahku seketika. Astaga, lelaki ini mulai lagi dengan penyakit workaholic-nya. Aku menggigit bibirku karena hampir menangis. Maksudku… boleh kan aku berharap aku dijemput olehnya di bandara ini setelah aku terbang berjam-jam dari Indonesia?

From : Nadira Selena
Subject : I’m here!
Date : Januari 23, 18:56
To : Haikal Arifin

Enggak tau, ah! Aku mau keliling Manila sendiri aja. Aku enggak jadi liburan di sini bareng kamu. Bye.

Tepat ketika aku akan memilih icon untuk mengirimkan emailku itu, aku terhenyak kaget saat seseorang menepuk pundak kiriku.

“Kok tamu cantiknya manyun?”
Aku melongo dengan tampang super kaget. Seorang lelaki berkemeja biru berdiri di hadapanku. Lelaki itu tersenyum lebar ke arahku. “Pasti udah mau marah gara-gara ada yang bilang enggak bisa jemput, ya?”

Butuh beberapa detik agar aku bisa memfilter apa yang seharusnya aku katakan. “Damn you! Dasar bocah nyebelin!” aku berkata sambil terbahak dan memukul pelan lengan kirinya.
Ah, seandainya aku bisa mengatakan, “Aku merindukan kamu,” sambil memeluknya sepenuh hati.

***


23 Januari

Café Juanita, Pasig City, Metro Manila.

Aku terpana memerhatikan desain interior Café Juanita ini. Yang terlintas di kepalaku adalah statement bahwa aku sedang berada di dalam sebuah toko barang antik, bukan di dalam sebuah kafe. Lampu-lampu bernuansa lembut, dengan interior yang dihiasi koleksi pernak-pernik antik, tirai, dan kandilar-kandilar, benar-benar menciptakan atmosfer berbeda dari tempat ini.

“WOW!”

Haikal tertawa melihat responku. “Welcome to Philippines,” ujarnya. “Sekarang, mendingan kamu milih makanan yang ada di menu daripada kamu ngebiarin perut kamu kelaperan. Aku khawatir kamu bakalan melototin tempat ini sampai pagi,” dia terkekeh.

“Enggak gitu juga kali,” sergahku tergelak. “But honestly… I love this place!” seruku kepada lelaki yang duduk di hadapanku.

Haikal lagi-lagi menyunggingkan senyumnya. “Ah, jadi pangkat aku yang ada di daftar paling atas something-or-someone you love tersingkir dengan kafe ini?” candanya dengan menyipitkan matanya.

DEG. 

Rasanya ada bom atom yang dijatuhkan ke dalam rongga dadaku.


***

23 Januari

Astoria Plaza Hotel, Pasig City.

“Makasih untuk makan malamnya, Kal. Aku suka Kare-Kare sama Stick Toffee Pudding-nya,” aku berkata kepada Haikal yang berdiri di hadapanku. Kami berdua berada di depan pintu kamar tempatku menginap di Filipina selama tiga hari ini.

“You’re very welcome. Besok kita jalan-jalan ke Intramuros, ya,” ajaknya seraya tersenyum. “Kamu masuk gih, terus cepetan ganti baju, ntar masuk angin.”
Refleks, aku memerhatikan bagian depan blouse-ku yang agak basah karena kehujanan saat tadi kami keluar dari Café Juanita. “Dikit doang kok basahnya.”

“Rambut kamu juga basah, tuh,” Haikal menjawab, tidak mau kalah. “Salah sendiri kamu parkirnya jauh, enggak di depan pintu kafenya.”

Haikal tergelak. “Tempat parkirnya kan penuh tadi,” jawabnya membela diri. “Udah ah, susah ngedebat kamu. Mending sekarang kamu istirahat. Aku balik dulu,” lanjutnya, Aku menganggukkan kepala, lalu mengulurkan tangan kananku ke arahnya, yang
ternyata dibalas dengan uluran tangan kanannya.

“Apaan?” tanyaku tertawa. “Maksud aku, siniin kopernya,” aku melepaskan tangan Haikal dari genggamanku──dia tidak tau bagaimana riuhnya perasaanku selama beberapa jam ini gara-gara dia. “Koper,” kataku lagi sambil menunjuk koper yang gagangnya berada dalam genggaman tangan kiri Haikal.

“Oh,” Haikal membulatkan bibirnya. Dia menyerahkan gagangan koperku kepadaku. “Goodnight, then,” dia berpamitan.

“Sampai ketemu besok,” jawabku.

Haikal pun berlalu, sementara aku hanya bisa mematung memandanginya berjalan menjauhiku hingga sosoknya menghilang dari pandanganku.

Aku memutar tubuhku seratus delapan puluh derajat, membuka kunci pintu kamar dan bergegas masuk ke dalam. Aku membiarkan koperku tergeletak begitu saja di atas karpet, sementara aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur berseprai hijau terang dengan selimut cokelat yang tersampir di tigaperempat bagian tempat tidur. Aku memejamkan mataku──bukan untuk tidur, hanya mencoba untuk mengendalikan pikiranku sendiri.

Hanya derap air hujan di luar sana yang kini menemaniku dalam kegundahan akan keputusanku──keputusan akan masa depanku.

Iya… dua bulan lagi aku akan bertunangan dengan pacarku, Putra, lelaki yang telah menjabat sebagai pacarku selama lebih dari setahun terakhir. Akan tetapi… pada kenyataannya, hatiku tidak pernah seutuhnya kuberikan untuk Putra. Karena sesungguhnya, ada seseorang yang telah memiliki hatiku… jauh sebelum Putra masuk ke dalam kehidupanku.


***


24 Januari

Intramuros.

"Gimana kerjaan kamu di Makati?" aku bertanya pada Haikal yang kini berjalan di sampingku. Kami berdua melangkah keluar dari Plaza Mexico Station, tempat Pasig River Ferry yang kami tumpangi tadi berhenti. Kami lalu berjalan menuju Plaza Mexico, Plaza Espanan dan crumbling skeleton Intendencia──sebuah rumah pada periode kejayaan Spanyol yang kini pada abad kedua puluh telah berubah menjadi Central Bank.

Intramuros atau yang lebih dikenal dengan Walled City merupakan distrik tertua di Manila yang lekat dengan sejarah periode kolonial Spanyol. Tempat ini terletak di Manila Bay, sebelah selatan sungai Pasig. Tembok-tembok kokoh yang merupakan sisa-sisa sejarah abad ke-16, sekarang telah menjadi pusat kota administrasi Manila.

"Oke-oke aja," jawab Haikal. "Cuma tingkat stressor di Philippine Stock Exchange agak lumayan."
"Awas. Ntar cepet tua gara-gara stress mikirin kerjaan," candaku.

Haikal tertawa. "Kerjaan kamu sendiri... gimana? Asik dong pasti jadi reporter?" tanya Haikal kemudian. Ia membenarkan sedikit letak payung transparan yang digenggamnya agar meminimalisir tetesan air hujan yang ingin menyergapku.

"Asik," jawabku seadanya, lalu otomatis tersenyum. "Kenapa ketawa?" tanya Haikal.
"Lucu aja, kita pake payung. Kamu yang bawa payung itu, tepatnya," ocehku.

Haikal balas tertawa. "Funny but so damn good. Udah lama kita enggak jalan berdua pas lagi hujan kayak gini, kan?"

Aku membeku mendengar ucapan Haikal.
"Ayo kita ke Fort Santiago," ajaknya kemudian kepadaku. Iya, kepadaku──aku yang tengah sekuat tenaga mengatur kekusutan perasaanku sendiri.

***

24 Januari

Astoria Plaza Hotel, Pasig City.

What the hell am I doing?

Aku mengguyur kepalaku dengan air shower, berusaha untuk mendinginkan kepalaku──mengembalikan kewarasanku. Kepalaku berdenyut, rasanya hampir meledak.

Seharusnya aku menempelkan kertas post it di keningku untuk mengingatkanku akan tujuan utama kedatanganku ke Filipina: untuk memberitahu Haikal bahwa aku, temannya ini, akan bertunangan. Seharusnya aku mengatakan hal itu dari awal kedatanganku, bukannya malah terbuai dengan liburanku──yang semuanya kuhabiskan bersama Haikal──dengan melupakan eksistensi Putra di dalam hari-hariku.

Tidak. Ini tidak benar. Aku harus memberitahu Haikal. Kalau perlu, besok pagi saat dia baru menginjakkan kakinya di depan pintu kamarku untuk menjemputku, hal pertama yang akan kukatakan kepadanya adalah tentang rencana pertunanganku.

Baru beberapa detik aku membulatkan niatku itu, rasanya hatiku seketika menciut──seperti balon udara yang kehabisan gas hidrogennya. Saat memandangi tetesan- tetesan air yang jatuh dari keran shower, seketika saja aku mengingat kebersamaanku dengan Haikal hari ini. Aku dan dia di antara hujan… berjalan bersama. Hanya kami berdua.

***


25 Januari

Rizal Park.

Jam setengah delapan malam.
Aku mengedarkan pandanganku, memperhatikan hiruk pikuk pengunjung yang mendatangi Rizal Park──salah satu taman terbesar di Asia tenggara, yang dimulai dari Taft Avenue hingga Manila Bay.

Dari tempatku berdiri, aku melihat warna warni sorot lampu di berbagai penjuru.
Ternyata tempat ini tengah menyuguhkan pertunjukan air mancur menari──waterworks, yang diiringi musik serta lagu. “Kal, ini keren banget!” aku tidak bisa menyembunyikan kekagumanku, sementara Haikal hanya terkekeh melihat tingkahku.

“Udah aku bilang, kamu butuh cuti lama dari kerjaan kamu buat stay di sini. Hmmm… at least dua minggu lah,” ujarnya seraya menyipitkan matanya.

Aku mendelik galak ke arahnya. “Tapi kalau ntar aku dipecat, kamu yang nanggung biaya hidup aku, ya!” balasku sambil tergelak.

Haikal tertawa, sementara aku baru menyadari kesalahan ucapanku.
If he were to bear the burden of my life, wouldn’t that mean… that he should be my… husband?

Aku menggelengkan kepalaku saat pikiran itu melintas di kepalaku. Aku harus menyingkirkan pikiran gila itu.

“Pusing kayaknya kalau nanggung kamu. Liat nih,” canda Haikal. Ia menunjuk kantong-kantong belanjaan yang digenggamnya──barang-barang belanjaanku selama kami pergi sepanjang hari ini, termasuk saat kami mengunjungi Ayala Center yang banyak dipenuhi pertokoan di segala penjurunya.

Ternyata Haikal tidak menyadari keganjilan dalam sikapku beberapa detik yang lalu. Syukurlah.
“Anyway, thanks for today, Mr. Tour Guide,” kataku untuk mengalihkan pembicaraan. “Untuk Ayala Museum dan Ayala Triangle Park-nya, juga untuk Manila Ba y Walk-nya… juga…”

“Eh,” Haikal tiba-tiba memindahkan beberapa kantong belanjaan dari genggaman
tangan kanannya ke tangan kirinya, kemudian meletakkan telapak tangan kanannya itu di atas kepalaku. “Hujan, Nad. Ayo cepetan kita balik!” serunya.

Selama dua detik, aku terbengong. Baru saat saraf sensorikku dapat bekerja kembali, aku menyadari tetesan-tetesan air hujan sudah membasahi pipiku.

Kemudian, aku dan Haikal berlari menerobos hujan yang mulai deras. Dengan tawa yang teruntai di antara kami, aku meninggalkan gundah yang tengah kurasa… dan melupakan apa yang seharusnya kukatakan kepada Haikal hari ini.

***

25 Januari
Astoria Plaza Hotel, Pasig City.

Gundah yang tadi sempat lenyap dari pikiran dan perasaanku, nyatanya kembali lagi──tepat setelah Haikal mengantarku ke tempat aku menginap, lalu berpamitan pulang.

“Seru?”

Tenggorokanku tercekat. Rasanya ada ratusan duri yang menyangkut di sana. “Seru,” jawabku berusaha sesantai mungkin. Aku hanya bisa berdoa agar Putra──lelaki yang sekarang sedang berbicara denganku di telepon──memercayai ucapanku.

Putra tahu bahwa aku pergi ke Filipina untuk berlibur. Awalnya, dia juga akan ikut. Tetapi pekerjaannya di salah satu perusahaan konsultan, membuatnya tidak bisa meninggalkan pekerjaannya itu. Akhirnya aku tetap pergi sendiri karena tiket penerbangannya sudah kupesan dari jauh-jauh hari, sementara tiket milik Putra tidak jadi dipakai. Awalnya, aku berencana mengenalkan Putra kepada Haikal secara langsung untuk pertama kalinya saat kami berdua mengunjungi Haikal di Filipina.

Iya… selama ini Haikal mengetahui Putra dari cerita-ceritaku melalu email juga telepon. Yang tidak dia ketahui adalah rencana pertunanganku dengan Putra dua bulan lagi. Sementara Putra… dia tidak mengetahui bahwa yang kumaksud dengan ‘teman semasa SMA yang sekarang stay di Filipina’ adalah seorang lelaki bernama Haikal. Putra memang tidak pernah membahasnya… karena… karena kupikir, dia berpikiran bahwa teman lama yang kumaksud adalah seorang perempuan.

“Besok aku jemput kamu di bandara ya, Nad,” Putra berbicara dengan lembut dari seberang sana. “Aku kangen kamu. I wanna met you soon… aku pengen kita berdua cepet- cepet nyiapin kebutuhan untuk acara pertunangan kita nanti.”

DEG.

Rasanya ada pisau tajam yang mengiris hatiku hingga berdarah.

***


26 Januari

Ninoy Aquino International Airport.

"Have a safe flight, Nad."

Aku memaksakan diri untuk tersenyum, namun tidak menjawab. Aku berusaha menyingkirkan getir yang mungkin terlukis dari suaraku.

"Nanti kamu cuti yang agak lama, biar kita bisa jalan-jalan ke banyak tempat. Pantai, mungkin," Haikal berkata penuh semangat, dengan background rintik hujan di luar sana, yang terlihat dari jendela kaca berukuran besar di belakang tubuhnya.

Aku tahu aku tidak bisa diam lebih lama... karena aku telah memutuskan.
Adanya kamu dalam hidup aku, bikin aku ingin selalu berusaha ngeraih mimpi-mimpi aku. Dan di dalam setiap mimpi aku itu... ada kamu...

Bulir air mataku menggantung di sudut-sudut mataku. Apa yang diucapkan Putra tadi malam, menjungkirbalikkan dinding pertahanan perasaanku. Aku menyayangi lelaki itu... lelaki yang telah tulus mencintaiku selama lebih dari setahun terakhir. Tapi nyatanya perasaanku kepadanya tidak pernah sanggup membobol benteng tinggi pembentuk ruang di dalam hatiku──ruang yang kubangun hanya untuk seseorang yang ada di hadapanku.

"Kenapa diem aja?"

Haikal memiringkan sedikit kepalanya, mencoba melihat wajahku yang tertunduk menatap lantai. "Pasti kamu sedih gara-gara masih kangen sama aku, ya?" tanyanya dengan nada jahil.

Aku mencoba ikut tersenyum dengan kepala masih tertunduk sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mendongakkan kepala.

"Kamu beneran sedih?" Haikal masih meledekku saat melihat wajahku yang mungkin dengan jelas menggambarkan kesedihan──satu kesedihan yang mungkin tidak ia duga apa alasannya.

Tepat saat aku akan membuka mulutku untuk berbicara, suara seorang wanita menggema dari speaker di bandara ini. Penerbanganku ke Jakarta.

Ah... mungkinkah ini pertanda agar aku mendekap perasaanku ini tanpa harus dia ketahui?

"Aku... balik sekarang, ya," kalimat itu yang terucap, bukan tentang perasaan yang sesungguhnya menggenangi isi hatiku selama ini.

Aku berdiri, disusul dengan Haikal yang ikut berdiri, lalu menyerahkan gagang koper milikku kepadaku. "I'll miss you, Nad," ujarnya dengan seutas senyum hangat yang tergambar di wajahnya.

Oh Tuhan, rasanya hatiku teriris-iris. Bagaimana caranya aku memberitahu Haikal bahwa aku mencintainya? Bagaimana caranya aku memberitahu dirinya bahwa aku akan bertunangan dengan orang lain? Walaupun… pertanyaan itu adalah satu kenyataan yang mungkin tidak akan mengubah apapun… karena Haikal tidak pernah memiliki rasa yang sama dengan apa yang kumiliki untuknya.

Haikal menepuk lembut puncak kepalaku dan berkata, "Jangan bandel, ya..."
Runtuh sudah usahaku untuk tidak mengeluarkan air mata di hadapannya. Aku tidak peduli bila akhirnya air mata yang tumpah di pipiku sama derasnya dengan hujan yang kini turun di luar sana.

"Nah, kan, tiba-tiba nangis…"
Aku tersenyum. Ingin rasanya aku memintanya untuk memelukku, memintaku untuk tetap berada di sisinya... sebagai...

"Ya udah sana, nanti kamu ketinggalan pesawat."
Saat menatap bola mata Haikal yang riang... yang selalu memberi tawa untukku... rasanya aku benar-benar ingin menghambur dalam dekapannya dan tenggelam bersama tangisku di sana. Namun detik ini juga, aku merasa ada tembok tinggi kokoh yang berdiri di antara kami berdua.
Putra. Iya... aku tidak bisa menyakiti Putra. Dia sedang menungguku...

Aku kemudian merogoh salah satu saku coat-ku, mengeluarkan BlackBerry-ku dari dalamnya, kemudian menonaktifkan BlackBerry-ku itu. Aku harus mengatakannya. Dan setelah semua yang ingin kuucapkan itu terutarakan, aku butuh waktu untuk sendirian.

Haikal memerhatikan gerak-gerikku tanpa mencurigai apapun──tanpa mengetahui apa yang akan aku katakan kepadanya.

Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Aku akan bertunangan dengan Putra… dua bulan lagi. Aku... aku akan menikah dengan orang lain, Kal..."

Aku tidak berani meneruskan ucapanku, juga tidak berani menatap Haikal. Aku hanya memeluk Haikal sekilas, kemudian melangkahkan kakiku menjauh darinya, mengabaikan samar suaranya yang memanggil namaku. Aku mencoba meninggalkan perasaanku di sini, di Filipina… di satu negeri dimana hatiku berada di rumahnya──tempat Haikal berada──bersama dengan sang hujan, yang akan selalu membuatku teringat akan Haikal-ku.

***


1 Februari
Purwakarta.

“Aku takut kehilangan kamu…”
Tanganku yang memegang secangkir teh hangat bergetar setelah mendengarkan apa yang baru diucapkan lelaki yang duduk terpaku di hadapanku, di teras rumahku.

“Aku… selama ini aku enggak sadar kalau aku takut kehilangan kamu. Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu kamu bilang kamu berencana nikah dengan Putra… aku sadar-sesadar-sadarnya… kalau aku takut kehilangan kamu.”

Haikal memandang lurus ke arahku. Dia tampak letih setelah terbang beberapa jam dari Manila ke Jakarta, lalu menghabiskan dua jam perjalanan lagi menuju Purwakarta dengan menggunakan bus. Dia datang untuk menemuiku.

Aku membeku. Rongga pernapasanku terasa terkunci dengan sebongkah batu besar. Dadaku sesak. Rasa ngilu menjalar di seluruh nadiku.

“Aku… udah terlambat, Nad?” tanyanya lirih.
Aku membuang pandanganku darinya, berusaha terfokus memperhatikan derap hujan yang membasahi rerumputuan di depanku. Aku menghindari tatapan sedihnya yang terasa sanggup menghunus hatiku.

“Correct me if I’m wrong… tapi… dari cara kamu ngasih tau aku waktu di bandara, kenapa aku ngerasa kamu sedih, Nad? Kenapa kamu enggak ngasih tau kabar pertunangan kamu… dengan ceria? Dengan tawanya kamu?”

Aku terdiam. Ada jeda lama di antara kami.

“Nad… apa aku bener-bener udah terlambat?” Haikal mengulangi pertanyaannya. Ketika aku menoleh ke arahnya dan akan menjawab pertanyaannya, sebuah sedan
hitam meluncur masuk ke bagian depan garasi rumahku.

Aku dan Haikal melihat ke arah sana… ke arah dimana sesosok lelaki baru saja turun dari mobilnya. Lelaki itu tersenyum hangat kepadaku, kemudian menganggukkan kepalanya dengan ramah ke arah Haikal.

“Selamat sore,” ucap lelaki yang telah berada di dekat kursi tempat Haikal duduk. Rasanya kepalaku dihantam palu. Semua sistem di tubuhku terasa bagai benang kusut. “Ini siapa, Nad?” tanya lelaki itu dengan nada ramah.

Aku menghela napas berat, lalu berdiri mendekati lelaki itu. Haikal ikut berdiri dengan ragu. “Putra… ini Haikal,” aku berkata dengan suara tercekat. Rasanya aku hampir menangis. Tapi aku tahu, saat ini aku harus mengambil keputusan… keputusan yang akan menyakiti seseorang… atau dua orang.

Haikal memandangiku dengan risau di rona wajahnya.
“Haikal ini temen aku dari SMA. Dulu dia tetangga aku yang tinggal di deket rumah orang tua aku,” setengah mati aku berusaha menetralkan nada bicaraku kepada Putra──tanpa melihat ke arahnya.

“Dan Haikal… ini Putra...”
Oh Tuhan… inikah jawaban yang akan kuberikan?
“Ini… Putra…,” aku berusaha mengambil satu napas panjang sebelum akhirnya melanjutkan, “Putra, tunangan aku… calon suami aku.”

Di antara derasnya hujan yang menabrak permukaan bumi, aku menyakiti hati seseorang yang paling kusayangi.

Aku hanya berharap, Haikal bisa mengerti dengan keputusanku. Aku tidak bisa menyakiti Putra. Dan aku… aku berharap hubungan pertemananku dengan Haikal bisa baik-baik saja.

Iya, hanya itu harapanku. Harapanku di antara hujan… yang selalu menjadi tali pengikat di antara aku dan Haikal.

THE END