A Half Day with This Stranger

A Half Day with This Stranger

by Pia Devina

 

Sayap pesawat tampak kokoh terlihat dari tempatku duduk walaupun pesawat ini masih berdiri di atas landasannya dan belum melakukan boarding. Dari jendela pesawat di sebelah kiriku, aku bisa melihat beberapa kumpulan orang tengah berjalan menuju pesawat ini yang akan berangkat ke Penang, Malaysia.

Saat memikirkan akan menghabiskan libur kuliah semester keduaku selama seminggu di tempat kakakku yang sekarang telah menetap di Penang, hatiku terasa ringan sekali karena merasa sangat gembira dan bersemangat. Rasanya seperti ada burung-burung cantik berseliweran di sekitar tubuhku. Bayangkan, satu minggu terbebas dari mata kuliah yang membuat sakit kepala, tugas mingguan, serentetan quiz, dan dosen-dosen yang… ummm, seperti diktator!

Ada lagi yang lebih sempurna daripada mendapatkan kebebasan-kebebasan itu? Tentu saja dengan berlibur, akan menjadi hari-hari yang jauh lebih sempurna! Walaupun mungkin Penang bukanlah sebuah daerah utama di Malaysia, tapi bagiku tidak masalah. At least aku tidak hanya bengong di rumah, melakukan marathon DVD drama Korea favoritku.

Hei, jangan salah, ya. Untukku, marathon DVD drama Korea, membaca novel-novel favoritku, menulis fiksi hasil imajinasiku, menggali informasi global via internet dari laptop kesayanganku, adalah waktu-waktu yang menjadi surga dunia bagiku. Tapi untuk kali ini, jalan-jalan ke luar negeri, walaupun hanya tetangga dekat dari Indonesia, akan menyenangkan juga, bukan? Yes, there’s nothing perfect than this plan to visit my beloved sister!

Seumur hidupku, aku baru ke Penang satu kali. Dua tahun lalu, kakakku di transfer dari kantornya di Jakarta ke kantor di Penang. Akhirnya kakakku itu hijrah untuk tinggal di sana. Saat pindahan itulah aku baru pertama kali menginjakkan kaki di Penang, yang terletak di pantai barat laut Semenanjung Malaysia.

Menurutku, tata kota di Penang tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Gedung-gedung pencakar langit maupun apartemen-apartemen berlantai-lantai, semuanya tidak terlalu jauh berbeda. Ya… kecuali dengan kondisi jalanan di sana yang tentu lebih bersih dan rapi daripada Jakarta. Let’s say, di sana memang lebih teratur. Di pulau kecil itu, bangunan-bangunan bersejarah yang diakui UNESCO, masih berjajar manis dan terawat. Sebutlah George Town, Chulia Street, dan beberapa tempat lainnya.

BRUG.

“AWWW!”

Aku meringis kesakitan saat sesuatu yang cukup berat tiba-tiba menghantam lengan kananku.

“Sorry…”

Aku menengadahkan kepala. Seorang cowok tengah berdiri di dekat kursi pesawat di sampingku. Tubuhnya jangkung, rambut hitamnya agak acak-acakan, dengan sweater abu gondrong yang dikenakannya.
“Sorry, ya,” ulangnya lagi tanpa ekspresi.

“Oh, iya,” sahutku kemudian yang lantas membantu cowok itu untuk mengambil tas punggungnya yang tadi sempat menghantam lenganku. Tas berwarna hijau pekat itu tersungkur di dekat kaki kananku.

Setelah cowok itu meraih tas miliknya, lalu meletakkan tas itu di bagasi kabin yang ada di atas kepala kami, ia duduk di kursi di sebelahku. Oh, rupanya cowok ini duduk di sini.

Tidak lama kemudian, cowok itu memejamkan matanya, sementara aku kembali memperhatikan pergerakan-pergerakan di luar pesawat dari jendela pesawat dan menyibukkan diri untuk melanjutkan proses perencanaan liburan yang sempurna di dalam benakku.

***