A Half Day with This Stranger - Next 2

Satu jam empat puluh menit kemudian, terdengar suara seorang awak pesawat yang mengumumkan bahwa kami sudah tiba di Bandara Penang. Setelah pesawat landing dengan sempurna dan lampu tanda memakai sabuk pengaman telah dimatikan, aku melepaskan sabuk pengaman yang sebelumnya melilit di pinggangku.

Saat aku berdiri dan menoleh ke sebelah kanan untuk keluar dari pesawat, ternyata cowok yang duduk di sebelahku masih tertidur. Aduh, cowok itu bahkan tidak sadar kalau dia sudah sampai di tempat tujuannya.

“Hei, bangun,” akhirnya aku mencoba membangunkannya dengan menyentuh lengan kirinya. “Udah sampe,” ujarku lagi kemudian saat tidak ada respon dari cowok itu. “Bangun, udah sampe,” kali ini aku sedikit mengguncang tubuhnya.

Cowok itu tiba-tiba membuka matanya dalam gerakan cepat, kemudian menengadahkan kepalanya selama sedetik ke arahku, lalu bangkit dari duduknya dan bergerak menuju lorong pesawat untuk keluar dari pesawat melalui pintu belakang.

Aku memutar bola mata. Cowok itu belum sadar sepenuhnya dari tidurnya, tapi sudah gerasak-gerusuk sana-sini. Kalau dia tidak terantuk sesuatu saat berjalan, berarti dia jenius.

Aku memutuskan untuk keluar pesawat dari pintu depan. Ah, ternyata sama saja, dari tempatku duduk yang ada di barisan tengah, jarak ke pintu depan dan jarak ke pintu belakang pesawat tidak jauh berbeda. Terjadi antrian yang cukup panjang di kedua sisi. Butuh waktu selama lebih dari sepuluh menit hingga akhirnya aku berhasil keluar melalui pintu di bagian depan pesawat. Hembusan angin kemudian menerpa pipiku, menerbangkan rambut halus yang tidak terikat oleh kucir rambutku. Untung aku naik pesawat dengan jadwal penerbangan pagi, jadi suhu udara belum terasa panas.

Sambil melangkahkan kakiku melewati tangga yang terulur dari pintu pesawat ke atas aspal landasan pesawat, aku merogoh BlackBerry-ku yang sepanjang perjalanan tadi aku nonaktifkan dan kusimpan di saku kanan celana jeansku. Setelah menyalakan power-nya dan menunggu beberapa detik hingga ponselku aktif, aku meng-scroll phone book dan mencari nomor kontak kakakku.

BRUG!!!

Tubuhku tiba-tiba tertubruk seseorang dengan cukup keras hingga aku jatuh tersungkur di atas aspal.

“SORRY!!!” Aku melihat seorang cowok yang juga jatuh tersungkur di dekatku. Cowok itu kemudian buru-buru bangkit dan berlari secepat kilat menjauhiku.

Saraf sensorik di tubuhku seolah baru bekerja beberapa saat kemudian. “AAARRRGGGH!” erangku panik saat menyadari ponselku ternyata sudah jatuh mencium aspal, satu meter dari tempatku. Dengan gerakan cepat, aku bangkit dan meraih ponselku. Aku semakin frustasi saat melihat baterai ponselku dan bagian penutupnya terpisah dari bagian tubuh ponsel. Dengan perasaan was-was aku mencoba memasukkan baterai itu dan menyalakan ponselku. Nihil. LCD-nya gelap. Ponselku rusak!

Aku mengerang penuh kekesalan lalu buru-buru berlari. Ya, aku butuh mengejar cowok itu! Cowok yang duduk di sebelahku di pesawat tadi! Cowok yang membuat ponselku rusak!

***

“WOY! TUNGGUUU!!!”

Refleks aku berteriak kencang saat melihat sesosok cowok yang sedang berdiri di samping taksi di pintu keluar bandara yang terbuat dari kaca transparan.

“WOOOYYY!!! COWOK YANG PAKE SWEATER ABU-ABU!!!”

Aku bisa merasakan beberapa orang di dekatku melihatku dengan pandangan aneh. Aku berteriak-teriak di bandara bagai orang kesurupan. Tapi aku tidak peduli! Yang aku pedulikan sekarang adalah bagaimana cowok itu bisa bertanggung jawab atas tingkahnya yang membuat ponselku ini rusak!

Dari jarak lima meter, aku melihat cowok itu membalikkan tubuhnya ke arahku yang sedang berlari menuju tempatnya berdiri. Cowok itu mematung beberapa saat, lalu melihat ke sebelah kanan dan kirinya, kemudian bertanya dengan raut muka bingung setelah menyadari bahwa aku memang memanggil cowok itu, “Gue?” tanyanya.

Cowok itu mundur selangkah saat aku hampir menerjangnya karena kesulitan menghentikan langkah seribuku tadi. “Lu harus tanggung jawab,” ujarku tiba-tiba dengan napas terengah-engah karena kecapekan berlari mengejarnya.

“Hah?” tanya cowok itu dengan ekspresi semakin bingung.

“Untung gue enggak bawa koper gede, jadi gue enggak perlu ngantri bagasi dan akhirnya sekarang bisa ngejar lu,” kataku semakin tidak jelas, sementara lelaki itu mengerutkan keningnya.

“Lu siapa? Ngapain ngejar gue?” tanya cowok itu menatap lekat ke arahku. “Lu salah orang?” tanyanya lagi kemudian.

Aku membetulkan letak tas punggung yang cukup membebani punggungku. “Nih!” ucapku sambil mengangkat ponselku yang tidak menyala ke depan wajahnya. “Lu tadi nabrak gue. Handphone gue jatuh dan rusak gara-gara lu,” terangku dengan cepat. “Tanggung jawab!” lanjutku dengan kesal.

Cowok itu diam selama beberapa detik layaknya manequine di pertokoan.

“Woy!” kataku tidak sabar saat cowok itu tidak merespon.

“Aduh, sorry banget, tadi gue enggak sengaja nubruk lu. Gue lagi buru-buru,” cowok itu melirik pada jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Nanti deh kita beresin urusannya, ya? Berapa nomer handphone lu?”

Tepat sebelum aku menjawab pertanyaan itu, seorang pria paruh baya yang duduk di belakang setir taksinya, bertanya pada cowok yang sedang menunggu jawabanku atas pertanyaan tadi. “Are you ready to go?” tanya supir taksi itu.

Cowok itu kemudian menoleh pada supir taksi itu. “Wait a minute, I need to talk with this girl first,” ujarnya.

Tiba-tiba saja suatu hal terlintas di pikiranku. Ini Malaysia. Aku tidak bisa jamin kalau cowok di depanku ini akan menghubungiku lagi atau tidak walaupun aku telah memberinya nomor teleponku. Bisa saja dia menghilang begitu saja tanpa bertanggung jawab atas kerusakan ponselku, kan?

“Gue lagi buru-buru nih,” katanya kemudian padaku.

“Gue ikut lu,” jawabku tiba-tiba. Kontan saja cowok itu kaget mendengar statement-ku barusan.

“Hah?!” tanyanya tidak percaya.

“Gue enggak berani jamin lu bakalan nepatin janji lu buat tanggung jawab atas kerusakan handphone gue kalau lu gue lepasin gitu aja. Bisa aja lu kabur,” ucapku panjang lebar dengan kecepatan tinggi.

Cowok itu menggelengkan kepalanya dengan tidak sabar. “Oh, ya ampun! Lu berlebihan!”

“Gue bersikap waspada, bukan berlebihan!” protesku. Tidak lama kemudian, aku beranjak duduk di dalam taksi yang akan ditumpangi oleh cowok itu, sementara cowok itu masih berdiri mematung di tempatnya.

“Gue enggak bakalan ngikutin lu lagi kalau lu udah benerin handphone gue.”

***