A Half Day with This Stranger - Next 3

Aku melirik pada cowok yang tengah berdiri di samping tubuhku, di depan pintu sebuah apartemen di lantai delapan di daerah Queensbay. “Maaf, gara-gara gue lu jadi telat dateng kesini buat ketemu cewek lu,” ucapku sambil menggigit bibir.

Cowok itu menatap pintu di hadapannya dengan pandangan kosong. Hatiku semakin merasa tidak enak melihat pemandangan seperti ini. Tadi saat perjalanan di taksi, aku ngotot minta handphone-ku diperbaiki terlebih dahulu sebelum Revan, nama cowok itu, pergi ke tempat tujuannya.

Sepanjang perjalanan, Revan sudah memberitahuku bahwa ia sedang terburu-buru untuk datang ke apartemen temannya di Queensbay, daerah Bayan Lepas. Dia meminta pengertianku untuk mengizinkannya bertemu temannya terlebih dahulu, baru membereskan urusan kami. Tapi dasar aku si cewek keras kepala, aku pikir itu hanya akal muslihatnya saja untuk mengelabuiku. Ternyata dugaanku salah. Temannya memang benar-benar sudah pergi dari apartemen ini.

“Dia bukan cewek gue,” ralat Revan tiba-tiba.

Aku terhenyak di tengah lamunanku. “Oh, sorry…” Dari caranya membicarakan temannya itu, aku bisa menebak, kalau temannya itu bukan sekedar teman biasa. Pasti Revan punya feeling untuk temannya itu.

Revan menghembuskan napasnya dengan kasar, lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi pintu. “Tadi kita udah ke Queensbay Mall untuk baikin handphone lu, tinggal tunggu tiga hari lagi sampe handphone lu itu beres,” Revan berbicara tanpa melihat ke arahku. Tidak lama kemudian, ia membalikkan kembali tubuhnya dan menghadap ke arahku. Cowok itu merogoh saku bagian belakang celananya dan mengeluarkan dompet miliknya. “Nih, seribu ringgit,” ujar cowok itu sambil mengulurkan tangannya.

Aku terdiam. Rasanya perasaan bersalahku menghilangkan minatku untuk memintanya mengganti kerusakan ponselku. “Hmmm… enggak usah deh,” kataku kemudian. “Lagian duit segitu bisa beli handphone baru, bukan buat ngebaikin. Duitnya kebanyakan.”

Cowok itu mengangkat alisnya. “Enggak usah?” tanyanya ragu. “Tadi lu ngotot minta tanggung jawab gue, sekarang malah bilang enggak usah… malah bilang kebanyakan lagi…”

Aku menganggukkan kepala seperti orang bodoh yang tidak punya pendirian. “Gue… gue ngerasa bersalah ama lu. Gara-gara gue, lu enggak ketemu cewek lu…” aku menghentikan ucapanku lalu segera meralatnya, “… maksud gue temen lu. Gara-gara gue, lu enggak ketemu temen lu itu sebelum temen lu itu berangkat backpacker-an ama temen-temen kuliahnya ke Thailand.”

Tiba-tiba saja cowok di hadapanku tersenyum lebar padaku. “Wow, ingetan lu bagus juga, ya. Lu nginget semua detail yang gue ceritain ke lu waktu di taksi tadi,” cowok itu terkekeh. “Tapi gimanapun juga gue ngerasa bersalah udah bikin handphone lu rusak, Sheryl,” pengucapan namaku yang baru pertama kali meluncur dari bibir Revan terasa agak janggal. Mungkin karena ini baru pertama kalinya cowok itu menyebut namaku semenjak aku memberitahukan siapa namaku. “Lu ambil aja seribu ringgit ini, ya?”

Aku menimbang ucapannya dengan ragu. Di satu sisi, aku memang tidak punya budget untuk memperbaiki ponselku. Aku berangkat ke Penang saja dengan uang pas-pasan untuk seminggu. Aku terlanjur bilang pada Papa dan Mama kalau aku akan ke Penang dengan uangku sendiri.

Ya… sebenenarnya hal itu adalah kunci utamaku agar diizinkan pergi ke Penang seorang diri, seolah aku sudah mandiri, padahal usiaku masih belasan tahun. Ah, lagipula Papa dan Mama terlalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sangat sulit mencari waktu luang untuk berlibur bila harus mencocokkan jadwal liburku dengan mereka.

“Woy, kok bengong?”

Aku tersentak kaget. “Eh… ya udah gini aja. Lu ngegantinya jangan seribu ringgit, tapi sesuai dengan harga perbaikan handphone-nya, enggak lebih,” ujarku setelah memutar otak.

Revan terdiam sejenak. “Gimana caranya gue tau harga pas dari perbaikan handphone lu itu?”

Aku menepuk keningku. “Iya, bener! Gimana caranya?”

“Ya, udah, kita ketemu di tempat service handphone-nya, tiga hari dari sekarang. Oke?”

Aku mengangguk setuju.

“Ya, udah. Bye. Sampe ketemu nanti,” Revan berkata padaku sambil tersenyum. “Gue duluan, ya…”

“Van!” panggilku tiba-tiba sebelum cowok itu pergi. “Gue… gue enggak tau alamat persis apartemen kakak gue. Gue tuh semacem peta buta. Gue tipe orang yang tau spot suatu tempat, tapi enggak hafal jalan kesananya gimana,” kataku dengan ekspresi yang sepertinya…, ummm… tampak bodoh.

Revan mengerutkan wajahnya. “Terus?”

Aku menelan ludah. “Ummm… handphone gue kan lagi enggak ada,” lanjutku ragu.

Revan menatapku dengan curiga. Dan kecurigaannya memang beralasan.

“Kalaupun gue minjem handphone lu, gue enggak tau nomer telepon kakak gue…”

“Terus?”

“Ummm… lu bisa nemenin gue nyari apartemen kakak gue?” kataku sambil meringis. “Eh, sampe nemu apartemennya aja kok,” sambungku buru-buru. “Boleh gue minta tolong?”

Revan menghembuskan nafasnya dengan keras. “Aduh, dasar cewek…”

Aku hanya bisa nyengir menanggapi ucapannya.

***