A Half Day with This Stranger - Next 4

Revan yang duduk di kursi di hadapanku memandangku. Sebelah alisnya terangkat. “Jadi, kita jauh-jauh dari Queensbay ke Bukit Jambul buat ke apartemen kakak lu… enggak ada hasilnya?”

Aku tersenyum dengan penuh perasaan bersalah. “Hehehe… iya,” ringisku. “Gue juga kan enggak tau kalau gini ceritanya.” Aku menghela napas dalam-dalam, lalu membaca ulang kata-kata pada selembar kertas yang tadi aku temukan terselip di celah bagian bawah pintu apartemen Kak Sara.

Ryl, handphone kamu enggak aktif? Sorry, Kakak mesti ke kantor, ada urusan urgent. Kamu jalan-jalan dulu aja, ya. Kakak balik jam enam sore. Oke?

“Yah… seenggaknya gue enggak tersesat. Makasih ya, Van,” ujarku pada Revan dengan penuh terima kasih.

Revan hanya mengangguk, kemudian melahap Nasi Kandar, semacam nasi padang dengan bumbu kari, yang tadi dipesannya.

“Abis ini lu mau kemana?” tanyaku kemudian, lalu meminum ice lemon tea-ku.

“Paling ke tempat temen gue yang satu lagi,” jawabnya setelah berhasil menelan makanannya.

“Cewek juga?” tanyaku refleks.

Ah, rasanya aku ingin menjitak kepalaku sendiri saat pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku!

“Cowok,” Revan menjawab pertanyaanku dengan santai.

“Oh… dimana?”

“Di daerah George Town. Dia kuliah di USM,” jawabnya, masih sibuk mengunyah makanannya.

“USM?”

“Universiti Sains Malaysia,” terang Revan.

Aku mengangguk-nganggukkan kepala tanda mengerti. “Terus, lu kuliah dimana sekarang?”

Revan mendongakkan kepalanya kepadaku. “Kok jadi kayak interogasi gini, ya?”

Aku tersenyum malu. “Penasaran aja sih,” jawabku sambil nyengir. “Ya udah, kita main ke George Town aja, yuk?” ujarku untuk mengalihkan pembicaraan.

Lagi-lagi Revan menaikkan sebelah alisnya. “Ki-ta?” tanyanya dengan staccato pada pertanyaannya itu.

Aku menggembungkan pipiku. “Ummm… iya, kita.”

***