A Half Day with This Stranger - Next 5

Aku dan Revan berjalan di pinggiran jalan George Town setelah tadi kami berangkat dari Bukit Jambul menggunakan bis. Jujur saja, aku tidak ingat tadi kami menaiki bis nomor berapa dengan tujuan kemana. Ya… itulah untungnya jalan-jalan di tempat asing tidak hanya seorang diri, ada “tour guide” di sebelah kita yang akan lebih intens untuk memutar otak dalam hal transportasi kesana-kemari. And thanks God, it wasn’t me, orang yang bagaikan peta buta yang harus memutar otak untuk itu.

Dari tempat kami berada saat ini, aku bisa melihat di depan kami berdiri kokoh gedung Old City Hall. Atmosfer berbau history sangat terasa di tempat ini. Bangunan kuno itu berdinding putih dengan eksterior yang sangat unik dan keren. Ada banyak jendela berukuran cukup besar, dengan pintu yang tidak kalah besar dari jendela-jendela itu. Jalanan yang terhampar tampak lengang, jauh dari kata hiruk pikuk atau pedagang kaki lima seperti di Jakarta. Dan di ujung sana, terbentang air laut yang sore ini tampak tenang, tidak terjadi pasang atau surut. Oh, please, jangan tanya aku kapan waktu air itu pasang atau surut, karena aku tidak mengerti sama sekali tentang cuaca.

“Kenapa diem?”

Aku kaget ketika Revan tiba-tiba bertanya. Rupanya aku sibuk sendiri dengan pikiranku yang tengah mengagumi detail-detail di tempat ini. “Lagi terpesona aja,” jawabku sambil nyengir. “Rasanya susah banget nyari pemandangan kayak gini di Jakarta,” sesalku. “Ummm, well… Jakarta juga punya Kota Kuno sih, yang mirip-mirip kayak gini. Tapi rasanya nilai sejarahnya meluntur gara-gara terlalu banyak pedagang kaki lima dan barang-barang enggak jelas yang ada di setiap sudutnya,” aku berceloteh panjang lebar.

Revan menganggukkan kepalanya dengan setuju. “Bandung juga punya kawasan Braga, Asia Afrika. Tapi di sana masih better kayaknya dari Kota Tua. Menurut gue sih gitu,” ujar Revan sambil memotret gedung berukuran sangat besar di depan kami.

“Lu kuliah di Bandung?” tanyaku lagi penasaran, out of topic.

Revan tertawa. “Kesimpulan darimana?” tanyanya padaku.

Aku memutar bola mataku. “Nebak doang,” jawabku asal, sementara Revan hanya tertawa tanpa memberikan jawaban yang jelas. “Kemana lagi kita?” tanyaku kemudian, mencoba mengalihkan pembicaraan… lagi.

***