A Half Day with This Stranger - Next 6

Aku melahap Pasembur pesananku, makanan serupa rujak namun makanan intinya bukan buah-buahan, tetapi goreng-gorengan seperti ikan, otak-otak, cumi, kentang, dan banyak lagi yang ditaburi sedikit sayuran entah buah, lalu dibumbui dengan bumbu saus manis berbasis kacang, ya… seperti bumbu rujak.

“Gue masih sanggup makan ini sepiring lagi,” ujarku dengan mulut penuh makanan. Di belakangku, beberapa meter dari outdoor foodcourt di dekat Old City Hall tadi, adalah lautan luas. Wuiiih, kinda so perfect, kan? Menikmati makanan nikmat dengan ditemani sepoi sejuk angin sore dan pemandangan laut.

“Lu tuh badan doang yang kecil, taunya perutnya ganas,” Revan meledekku dengan puas.

Aku mencibir padanya. “Biarin, yang penting perut kenyang!”

Tiba-tiba di tengah tawa kami, handphone Revan yang diletakkan di atas meja bergetar. Aku bisa melihat jelas dengan ujung mataku, Revan mengangkat telepon itu dengan gerakan cepat.

“Hallo, Fen?”

Aku pura-pura sibuk menyendok makananku, tapi kupingku ternyata ada dalam keadaan siaga. Aku yakin yang menelepon Revan adalah… teman ceweknya yang tinggal di Queensbay itu! Aduh, kenapa perasaanku jadi tidak enak begini?

“Hah? Backpacker-an nya jadi diundur besok? Kenapa?” Revan bertanya dengan menggebu. Aku bisa melihat ada nada penuh harap dalam suara cowok itu.

“Oke, aku ke tempat kamu nanti sekitar jam tujuh, ya?”

Hatiku mencelos. Call me crazy! Seriously! Otakku pasti sedang tidak beres! Masa aku merasa tidak rela kalau malam ini cowok itu meninggalkanku jalan-jalan sendirian dan malah pergi bertemu si cewek itu?

“Gue mau ke China Town ama Little India. Temenin gue. Gue serem jalan sendirian,” celetukku begitu saja setelah Revan menutup teleponnya.

“Ummm, sorry, tapi gue nanti mesti…”

“Temenin, please. Gue takut nyasar,” kali ini otakku benar-benar tidak beres. Aku sadar itu. Tapi pernyataanku itu, bukan pertanyaan, refleks meluncur begitu saja. Rupanya otakku sedang bekerja lambat bak seekor siput.

“Tapi…”

“Temenin, please? Serem gue jalan sendirian, mana enggak tau jalan pula,” aku berkata tanpa melihat Revan yang sedang memandangku dengan bingung. “Gue seneng dan ngerasa nyaman jalan-jalan bareng lu.”

Jackpot! Kebodohanku sudah mencapai titik maksimal! Tapi… tidak ada salahnya bukan bila aku ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan cowok asing ini?

Revan menatapku dengan ekspresi tampak merasa bersalah. Ah, harusnya aku tidak memintanya menemaniku… karena…

“Sorry, Ryl… gue enggak bisa nemenin lu. Maaf banget… ada urusan yang harus gue beresin dulu…”

Tuh kan. Aku sudah tahu dengan jelas jawabannya.

Aku mengangguk pelan pada Revan. “Iya, enggak apa-apa,” ucapku dengan nada kecewa yang tidak sanggup aku sembunyikan.

***