A Half Day with This Stranger - Next 7

Jam sepuluh malam.

Entah sudah berapa kali aku membolak-balikkan tubuh di atas tempat tidur dengan gelisah. Ini terlalu aneh. Perasaanku bagai berayun dari tempat yang sangat tinggi lalu jatuh ke tempat yang sangat rendah hanya karena seorang cowok asing yang mampir ke dalam episode hariku hari ini.

Tadi setelah dari George Town, Revan yang menolak ajakanku untuk menemaniku ke China Town dan Little India, mengantarku ke apartemen kakakku, lalu cowok itu buru-buru berpamitan. Iya, dia akan mengunjungi teman ceweknya itu.

Ah, lagi-lagi aku merasa tidak enak hati bila mengingat tentang cewek itu. Cewek yang sama sekali tidak kukenal, tapi berhasil mengganggu pikiranku.

“Makasih udah nemenin gue hari ini…”

Rangkaian kata-kata yang diucapkan Revan saat kami berada di depan pintu apartemen kakakku, diputar berulang-ulang di dalam benakku, hingga meninabobokanku menuju alam mimpiku malam ini. Di mimpiku, aku sedang berjalan seorang diri di suatu hamparan salju putih tanpa batas saat tiba-tiba muncul sosok Revan di hadapanku dengan tangannya yang terbentang lebar ke arahku. Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Apakah tangan-tangan itu hendak memelukku?

***

Jam enam pagi.

“Ryyyl, ini ada pesan buat kamuuu!”

Teriakan Kak Sara dari ruang tamu terasa nyaris menghancurkan gendang telingaku.

“Banguuuuun, Ryyylll!”

Teriakan itu semakin kencang, bahkan menggagalkan usahaku untuk meredam suara rebut-ribut itu dengan bantal.

“Banguuunnnnn!!!”

Aku memaksakan diri untuk duduk. “Iyaaa…” teriakku masih setengah tidak sadar. Aduh, kepalaku masih terasa sakit!

“Kamu udah punya temen disini, Ryl?” tanya Kak Sara yang tengah duduk di sofa ruang tamu sambil memoles beberapa helai roti dengan selai blueberry.

Mataku menyipit. Setengah karena mengantuk, setengah karena tidak mengerti apa yang sedang kakakku bicarakan.

“Tadi pas aku buka pintu apartemen buat buang sampah, ada kertas di bawah celah pintu.”

Aku masih roaming dengan ucapan Kak Sara.

“Ituuu,” ujar Kak Sara dengan gemas sambil menunjuk sehelai kertas di salah satu ujung meja. “Baca dulu makanya.”

Aku yang semula masih berdiri di depan pintu kamar, melangkahkan kakiku dengan terhuyung mendekati kertas yang dimaksud Kak Sara. “Ini apaan emang?” tanyaku pada Kak Sara yang hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.

Aku mengucek mata sebentar, lalu memperhatikan kertas itu dengan cermat. Oh, Tuhan! Rasanya jantungku akan melompat keluar dari rongga dadaku saat membaca tulisan di kertas yang sedang kupegang!

Hai, Sheryl.
Gue balik lagi ke apartemen kakak lu. Tapi gue enggak mencet bel-nya. Enggak enak, udah kemaleman, jam sebelas nih. Lu juga pasti udah tidur.
087816188401.
Itu nomer HP gue. Lu bisa hubungi gue kapan aja. Maksud gue, gue enggak mau dibilang lepas tanggung jawab soal HP lu yang rusak itu.


*Selesai*