A Half Day with This Stranger

A Half Day with This Stranger

by Pia Devina

 

Sayap pesawat tampak kokoh terlihat dari tempatku duduk walaupun pesawat ini masih berdiri di atas landasannya dan belum melakukan boarding. Dari jendela pesawat di sebelah kiriku, aku bisa melihat beberapa kumpulan orang tengah berjalan menuju pesawat ini yang akan berangkat ke Penang, Malaysia.

Saat memikirkan akan menghabiskan libur kuliah semester keduaku selama seminggu di tempat kakakku yang sekarang telah menetap di Penang, hatiku terasa ringan sekali karena merasa sangat gembira dan bersemangat. Rasanya seperti ada burung-burung cantik berseliweran di sekitar tubuhku. Bayangkan, satu minggu terbebas dari mata kuliah yang membuat sakit kepala, tugas mingguan, serentetan quiz, dan dosen-dosen yang… ummm, seperti diktator!

Ada lagi yang lebih sempurna daripada mendapatkan kebebasan-kebebasan itu? Tentu saja dengan berlibur, akan menjadi hari-hari yang jauh lebih sempurna! Walaupun mungkin Penang bukanlah sebuah daerah utama di Malaysia, tapi bagiku tidak masalah. At least aku tidak hanya bengong di rumah, melakukan marathon DVD drama Korea favoritku.

Hei, jangan salah, ya. Untukku, marathon DVD drama Korea, membaca novel-novel favoritku, menulis fiksi hasil imajinasiku, menggali informasi global via internet dari laptop kesayanganku, adalah waktu-waktu yang menjadi surga dunia bagiku. Tapi untuk kali ini, jalan-jalan ke luar negeri, walaupun hanya tetangga dekat dari Indonesia, akan menyenangkan juga, bukan? Yes, there’s nothing perfect than this plan to visit my beloved sister!

Seumur hidupku, aku baru ke Penang satu kali. Dua tahun lalu, kakakku di transfer dari kantornya di Jakarta ke kantor di Penang. Akhirnya kakakku itu hijrah untuk tinggal di sana. Saat pindahan itulah aku baru pertama kali menginjakkan kaki di Penang, yang terletak di pantai barat laut Semenanjung Malaysia.

Menurutku, tata kota di Penang tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Gedung-gedung pencakar langit maupun apartemen-apartemen berlantai-lantai, semuanya tidak terlalu jauh berbeda. Ya… kecuali dengan kondisi jalanan di sana yang tentu lebih bersih dan rapi daripada Jakarta. Let’s say, di sana memang lebih teratur. Di pulau kecil itu, bangunan-bangunan bersejarah yang diakui UNESCO, masih berjajar manis dan terawat. Sebutlah George Town, Chulia Street, dan beberapa tempat lainnya.

BRUG.

“AWWW!”

Aku meringis kesakitan saat sesuatu yang cukup berat tiba-tiba menghantam lengan kananku.

“Sorry…”

Aku menengadahkan kepala. Seorang cowok tengah berdiri di dekat kursi pesawat di sampingku. Tubuhnya jangkung, rambut hitamnya agak acak-acakan, dengan sweater abu gondrong yang dikenakannya.
“Sorry, ya,” ulangnya lagi tanpa ekspresi.

“Oh, iya,” sahutku kemudian yang lantas membantu cowok itu untuk mengambil tas punggungnya yang tadi sempat menghantam lenganku. Tas berwarna hijau pekat itu tersungkur di dekat kaki kananku.

Setelah cowok itu meraih tas miliknya, lalu meletakkan tas itu di bagasi kabin yang ada di atas kepala kami, ia duduk di kursi di sebelahku. Oh, rupanya cowok ini duduk di sini.

Tidak lama kemudian, cowok itu memejamkan matanya, sementara aku kembali memperhatikan pergerakan-pergerakan di luar pesawat dari jendela pesawat dan menyibukkan diri untuk melanjutkan proses perencanaan liburan yang sempurna di dalam benakku.

***


Satu jam empat puluh menit kemudian, terdengar suara seorang awak pesawat yang mengumumkan bahwa kami sudah tiba di Bandara Penang. Setelah pesawat landing dengan sempurna dan lampu tanda memakai sabuk pengaman telah dimatikan, aku melepaskan sabuk pengaman yang sebelumnya melilit di pinggangku.

Saat aku berdiri dan menoleh ke sebelah kanan untuk keluar dari pesawat, ternyata cowok yang duduk di sebelahku masih tertidur. Aduh, cowok itu bahkan tidak sadar kalau dia sudah sampai di tempat tujuannya.

“Hei, bangun,” akhirnya aku mencoba membangunkannya dengan menyentuh lengan kirinya. “Udah sampe,” ujarku lagi kemudian saat tidak ada respon dari cowok itu. “Bangun, udah sampe,” kali ini aku sedikit mengguncang tubuhnya.

Cowok itu tiba-tiba membuka matanya dalam gerakan cepat, kemudian menengadahkan kepalanya selama sedetik ke arahku, lalu bangkit dari duduknya dan bergerak menuju lorong pesawat untuk keluar dari pesawat melalui pintu belakang.

Aku memutar bola mata. Cowok itu belum sadar sepenuhnya dari tidurnya, tapi sudah gerasak-gerusuk sana-sini. Kalau dia tidak terantuk sesuatu saat berjalan, berarti dia jenius.

Aku memutuskan untuk keluar pesawat dari pintu depan. Ah, ternyata sama saja, dari tempatku duduk yang ada di barisan tengah, jarak ke pintu depan dan jarak ke pintu belakang pesawat tidak jauh berbeda. Terjadi antrian yang cukup panjang di kedua sisi. Butuh waktu selama lebih dari sepuluh menit hingga akhirnya aku berhasil keluar melalui pintu di bagian depan pesawat. Hembusan angin kemudian menerpa pipiku, menerbangkan rambut halus yang tidak terikat oleh kucir rambutku. Untung aku naik pesawat dengan jadwal penerbangan pagi, jadi suhu udara belum terasa panas.

Sambil melangkahkan kakiku melewati tangga yang terulur dari pintu pesawat ke atas aspal landasan pesawat, aku merogoh BlackBerry-ku yang sepanjang perjalanan tadi aku nonaktifkan dan kusimpan di saku kanan celana jeansku. Setelah menyalakan power-nya dan menunggu beberapa detik hingga ponselku aktif, aku meng-scroll phone book dan mencari nomor kontak kakakku.

BRUG!!!

Tubuhku tiba-tiba tertubruk seseorang dengan cukup keras hingga aku jatuh tersungkur di atas aspal.

“SORRY!!!” Aku melihat seorang cowok yang juga jatuh tersungkur di dekatku. Cowok itu kemudian buru-buru bangkit dan berlari secepat kilat menjauhiku.

Saraf sensorik di tubuhku seolah baru bekerja beberapa saat kemudian. “AAARRRGGGH!” erangku panik saat menyadari ponselku ternyata sudah jatuh mencium aspal, satu meter dari tempatku. Dengan gerakan cepat, aku bangkit dan meraih ponselku. Aku semakin frustasi saat melihat baterai ponselku dan bagian penutupnya terpisah dari bagian tubuh ponsel. Dengan perasaan was-was aku mencoba memasukkan baterai itu dan menyalakan ponselku. Nihil. LCD-nya gelap. Ponselku rusak!

Aku mengerang penuh kekesalan lalu buru-buru berlari. Ya, aku butuh mengejar cowok itu! Cowok yang duduk di sebelahku di pesawat tadi! Cowok yang membuat ponselku rusak!

***

“WOY! TUNGGUUU!!!”

Refleks aku berteriak kencang saat melihat sesosok cowok yang sedang berdiri di samping taksi di pintu keluar bandara yang terbuat dari kaca transparan.

“WOOOYYY!!! COWOK YANG PAKE SWEATER ABU-ABU!!!”

Aku bisa merasakan beberapa orang di dekatku melihatku dengan pandangan aneh. Aku berteriak-teriak di bandara bagai orang kesurupan. Tapi aku tidak peduli! Yang aku pedulikan sekarang adalah bagaimana cowok itu bisa bertanggung jawab atas tingkahnya yang membuat ponselku ini rusak!

Dari jarak lima meter, aku melihat cowok itu membalikkan tubuhnya ke arahku yang sedang berlari menuju tempatnya berdiri. Cowok itu mematung beberapa saat, lalu melihat ke sebelah kanan dan kirinya, kemudian bertanya dengan raut muka bingung setelah menyadari bahwa aku memang memanggil cowok itu, “Gue?” tanyanya.

Cowok itu mundur selangkah saat aku hampir menerjangnya karena kesulitan menghentikan langkah seribuku tadi. “Lu harus tanggung jawab,” ujarku tiba-tiba dengan napas terengah-engah karena kecapekan berlari mengejarnya.

“Hah?” tanya cowok itu dengan ekspresi semakin bingung.

“Untung gue enggak bawa koper gede, jadi gue enggak perlu ngantri bagasi dan akhirnya sekarang bisa ngejar lu,” kataku semakin tidak jelas, sementara lelaki itu mengerutkan keningnya.

“Lu siapa? Ngapain ngejar gue?” tanya cowok itu menatap lekat ke arahku. “Lu salah orang?” tanyanya lagi kemudian.

Aku membetulkan letak tas punggung yang cukup membebani punggungku. “Nih!” ucapku sambil mengangkat ponselku yang tidak menyala ke depan wajahnya. “Lu tadi nabrak gue. Handphone gue jatuh dan rusak gara-gara lu,” terangku dengan cepat. “Tanggung jawab!” lanjutku dengan kesal.

Cowok itu diam selama beberapa detik layaknya manequine di pertokoan.

“Woy!” kataku tidak sabar saat cowok itu tidak merespon.

“Aduh, sorry banget, tadi gue enggak sengaja nubruk lu. Gue lagi buru-buru,” cowok itu melirik pada jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Nanti deh kita beresin urusannya, ya? Berapa nomer handphone lu?”

Tepat sebelum aku menjawab pertanyaan itu, seorang pria paruh baya yang duduk di belakang setir taksinya, bertanya pada cowok yang sedang menunggu jawabanku atas pertanyaan tadi. “Are you ready to go?” tanya supir taksi itu.

Cowok itu kemudian menoleh pada supir taksi itu. “Wait a minute, I need to talk with this girl first,” ujarnya.

Tiba-tiba saja suatu hal terlintas di pikiranku. Ini Malaysia. Aku tidak bisa jamin kalau cowok di depanku ini akan menghubungiku lagi atau tidak walaupun aku telah memberinya nomor teleponku. Bisa saja dia menghilang begitu saja tanpa bertanggung jawab atas kerusakan ponselku, kan?

“Gue lagi buru-buru nih,” katanya kemudian padaku.

“Gue ikut lu,” jawabku tiba-tiba. Kontan saja cowok itu kaget mendengar statement-ku barusan.

“Hah?!” tanyanya tidak percaya.

“Gue enggak berani jamin lu bakalan nepatin janji lu buat tanggung jawab atas kerusakan handphone gue kalau lu gue lepasin gitu aja. Bisa aja lu kabur,” ucapku panjang lebar dengan kecepatan tinggi.

Cowok itu menggelengkan kepalanya dengan tidak sabar. “Oh, ya ampun! Lu berlebihan!”

“Gue bersikap waspada, bukan berlebihan!” protesku. Tidak lama kemudian, aku beranjak duduk di dalam taksi yang akan ditumpangi oleh cowok itu, sementara cowok itu masih berdiri mematung di tempatnya.

“Gue enggak bakalan ngikutin lu lagi kalau lu udah benerin handphone gue.”

***


Aku melirik pada cowok yang tengah berdiri di samping tubuhku, di depan pintu sebuah apartemen di lantai delapan di daerah Queensbay. “Maaf, gara-gara gue lu jadi telat dateng kesini buat ketemu cewek lu,” ucapku sambil menggigit bibir.

Cowok itu menatap pintu di hadapannya dengan pandangan kosong. Hatiku semakin merasa tidak enak melihat pemandangan seperti ini. Tadi saat perjalanan di taksi, aku ngotot minta handphone-ku diperbaiki terlebih dahulu sebelum Revan, nama cowok itu, pergi ke tempat tujuannya.

Sepanjang perjalanan, Revan sudah memberitahuku bahwa ia sedang terburu-buru untuk datang ke apartemen temannya di Queensbay, daerah Bayan Lepas. Dia meminta pengertianku untuk mengizinkannya bertemu temannya terlebih dahulu, baru membereskan urusan kami. Tapi dasar aku si cewek keras kepala, aku pikir itu hanya akal muslihatnya saja untuk mengelabuiku. Ternyata dugaanku salah. Temannya memang benar-benar sudah pergi dari apartemen ini.

“Dia bukan cewek gue,” ralat Revan tiba-tiba.

Aku terhenyak di tengah lamunanku. “Oh, sorry…” Dari caranya membicarakan temannya itu, aku bisa menebak, kalau temannya itu bukan sekedar teman biasa. Pasti Revan punya feeling untuk temannya itu.

Revan menghembuskan napasnya dengan kasar, lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi pintu. “Tadi kita udah ke Queensbay Mall untuk baikin handphone lu, tinggal tunggu tiga hari lagi sampe handphone lu itu beres,” Revan berbicara tanpa melihat ke arahku. Tidak lama kemudian, ia membalikkan kembali tubuhnya dan menghadap ke arahku. Cowok itu merogoh saku bagian belakang celananya dan mengeluarkan dompet miliknya. “Nih, seribu ringgit,” ujar cowok itu sambil mengulurkan tangannya.

Aku terdiam. Rasanya perasaan bersalahku menghilangkan minatku untuk memintanya mengganti kerusakan ponselku. “Hmmm… enggak usah deh,” kataku kemudian. “Lagian duit segitu bisa beli handphone baru, bukan buat ngebaikin. Duitnya kebanyakan.”

Cowok itu mengangkat alisnya. “Enggak usah?” tanyanya ragu. “Tadi lu ngotot minta tanggung jawab gue, sekarang malah bilang enggak usah… malah bilang kebanyakan lagi…”

Aku menganggukkan kepala seperti orang bodoh yang tidak punya pendirian. “Gue… gue ngerasa bersalah ama lu. Gara-gara gue, lu enggak ketemu cewek lu…” aku menghentikan ucapanku lalu segera meralatnya, “… maksud gue temen lu. Gara-gara gue, lu enggak ketemu temen lu itu sebelum temen lu itu berangkat backpacker-an ama temen-temen kuliahnya ke Thailand.”

Tiba-tiba saja cowok di hadapanku tersenyum lebar padaku. “Wow, ingetan lu bagus juga, ya. Lu nginget semua detail yang gue ceritain ke lu waktu di taksi tadi,” cowok itu terkekeh. “Tapi gimanapun juga gue ngerasa bersalah udah bikin handphone lu rusak, Sheryl,” pengucapan namaku yang baru pertama kali meluncur dari bibir Revan terasa agak janggal. Mungkin karena ini baru pertama kalinya cowok itu menyebut namaku semenjak aku memberitahukan siapa namaku. “Lu ambil aja seribu ringgit ini, ya?”

Aku menimbang ucapannya dengan ragu. Di satu sisi, aku memang tidak punya budget untuk memperbaiki ponselku. Aku berangkat ke Penang saja dengan uang pas-pasan untuk seminggu. Aku terlanjur bilang pada Papa dan Mama kalau aku akan ke Penang dengan uangku sendiri.

Ya… sebenenarnya hal itu adalah kunci utamaku agar diizinkan pergi ke Penang seorang diri, seolah aku sudah mandiri, padahal usiaku masih belasan tahun. Ah, lagipula Papa dan Mama terlalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sangat sulit mencari waktu luang untuk berlibur bila harus mencocokkan jadwal liburku dengan mereka.

“Woy, kok bengong?”

Aku tersentak kaget. “Eh… ya udah gini aja. Lu ngegantinya jangan seribu ringgit, tapi sesuai dengan harga perbaikan handphone-nya, enggak lebih,” ujarku setelah memutar otak.

Revan terdiam sejenak. “Gimana caranya gue tau harga pas dari perbaikan handphone lu itu?”

Aku menepuk keningku. “Iya, bener! Gimana caranya?”

“Ya, udah, kita ketemu di tempat service handphone-nya, tiga hari dari sekarang. Oke?”

Aku mengangguk setuju.

“Ya, udah. Bye. Sampe ketemu nanti,” Revan berkata padaku sambil tersenyum. “Gue duluan, ya…”

“Van!” panggilku tiba-tiba sebelum cowok itu pergi. “Gue… gue enggak tau alamat persis apartemen kakak gue. Gue tuh semacem peta buta. Gue tipe orang yang tau spot suatu tempat, tapi enggak hafal jalan kesananya gimana,” kataku dengan ekspresi yang sepertinya…, ummm… tampak bodoh.

Revan mengerutkan wajahnya. “Terus?”

Aku menelan ludah. “Ummm… handphone gue kan lagi enggak ada,” lanjutku ragu.

Revan menatapku dengan curiga. Dan kecurigaannya memang beralasan.

“Kalaupun gue minjem handphone lu, gue enggak tau nomer telepon kakak gue…”

“Terus?”

“Ummm… lu bisa nemenin gue nyari apartemen kakak gue?” kataku sambil meringis. “Eh, sampe nemu apartemennya aja kok,” sambungku buru-buru. “Boleh gue minta tolong?”

Revan menghembuskan nafasnya dengan keras. “Aduh, dasar cewek…”

Aku hanya bisa nyengir menanggapi ucapannya.

***


Revan yang duduk di kursi di hadapanku memandangku. Sebelah alisnya terangkat. “Jadi, kita jauh-jauh dari Queensbay ke Bukit Jambul buat ke apartemen kakak lu… enggak ada hasilnya?”

Aku tersenyum dengan penuh perasaan bersalah. “Hehehe… iya,” ringisku. “Gue juga kan enggak tau kalau gini ceritanya.” Aku menghela napas dalam-dalam, lalu membaca ulang kata-kata pada selembar kertas yang tadi aku temukan terselip di celah bagian bawah pintu apartemen Kak Sara.

Ryl, handphone kamu enggak aktif? Sorry, Kakak mesti ke kantor, ada urusan urgent. Kamu jalan-jalan dulu aja, ya. Kakak balik jam enam sore. Oke?

“Yah… seenggaknya gue enggak tersesat. Makasih ya, Van,” ujarku pada Revan dengan penuh terima kasih.

Revan hanya mengangguk, kemudian melahap Nasi Kandar, semacam nasi padang dengan bumbu kari, yang tadi dipesannya.

“Abis ini lu mau kemana?” tanyaku kemudian, lalu meminum ice lemon tea-ku.

“Paling ke tempat temen gue yang satu lagi,” jawabnya setelah berhasil menelan makanannya.

“Cewek juga?” tanyaku refleks.

Ah, rasanya aku ingin menjitak kepalaku sendiri saat pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku!

“Cowok,” Revan menjawab pertanyaanku dengan santai.

“Oh… dimana?”

“Di daerah George Town. Dia kuliah di USM,” jawabnya, masih sibuk mengunyah makanannya.

“USM?”

“Universiti Sains Malaysia,” terang Revan.

Aku mengangguk-nganggukkan kepala tanda mengerti. “Terus, lu kuliah dimana sekarang?”

Revan mendongakkan kepalanya kepadaku. “Kok jadi kayak interogasi gini, ya?”

Aku tersenyum malu. “Penasaran aja sih,” jawabku sambil nyengir. “Ya udah, kita main ke George Town aja, yuk?” ujarku untuk mengalihkan pembicaraan.

Lagi-lagi Revan menaikkan sebelah alisnya. “Ki-ta?” tanyanya dengan staccato pada pertanyaannya itu.

Aku menggembungkan pipiku. “Ummm… iya, kita.”

***


Aku dan Revan berjalan di pinggiran jalan George Town setelah tadi kami berangkat dari Bukit Jambul menggunakan bis. Jujur saja, aku tidak ingat tadi kami menaiki bis nomor berapa dengan tujuan kemana. Ya… itulah untungnya jalan-jalan di tempat asing tidak hanya seorang diri, ada “tour guide” di sebelah kita yang akan lebih intens untuk memutar otak dalam hal transportasi kesana-kemari. And thanks God, it wasn’t me, orang yang bagaikan peta buta yang harus memutar otak untuk itu.

Dari tempat kami berada saat ini, aku bisa melihat di depan kami berdiri kokoh gedung Old City Hall. Atmosfer berbau history sangat terasa di tempat ini. Bangunan kuno itu berdinding putih dengan eksterior yang sangat unik dan keren. Ada banyak jendela berukuran cukup besar, dengan pintu yang tidak kalah besar dari jendela-jendela itu. Jalanan yang terhampar tampak lengang, jauh dari kata hiruk pikuk atau pedagang kaki lima seperti di Jakarta. Dan di ujung sana, terbentang air laut yang sore ini tampak tenang, tidak terjadi pasang atau surut. Oh, please, jangan tanya aku kapan waktu air itu pasang atau surut, karena aku tidak mengerti sama sekali tentang cuaca.

“Kenapa diem?”

Aku kaget ketika Revan tiba-tiba bertanya. Rupanya aku sibuk sendiri dengan pikiranku yang tengah mengagumi detail-detail di tempat ini. “Lagi terpesona aja,” jawabku sambil nyengir. “Rasanya susah banget nyari pemandangan kayak gini di Jakarta,” sesalku. “Ummm, well… Jakarta juga punya Kota Kuno sih, yang mirip-mirip kayak gini. Tapi rasanya nilai sejarahnya meluntur gara-gara terlalu banyak pedagang kaki lima dan barang-barang enggak jelas yang ada di setiap sudutnya,” aku berceloteh panjang lebar.

Revan menganggukkan kepalanya dengan setuju. “Bandung juga punya kawasan Braga, Asia Afrika. Tapi di sana masih better kayaknya dari Kota Tua. Menurut gue sih gitu,” ujar Revan sambil memotret gedung berukuran sangat besar di depan kami.

“Lu kuliah di Bandung?” tanyaku lagi penasaran, out of topic.

Revan tertawa. “Kesimpulan darimana?” tanyanya padaku.

Aku memutar bola mataku. “Nebak doang,” jawabku asal, sementara Revan hanya tertawa tanpa memberikan jawaban yang jelas. “Kemana lagi kita?” tanyaku kemudian, mencoba mengalihkan pembicaraan… lagi.

***


Aku melahap Pasembur pesananku, makanan serupa rujak namun makanan intinya bukan buah-buahan, tetapi goreng-gorengan seperti ikan, otak-otak, cumi, kentang, dan banyak lagi yang ditaburi sedikit sayuran entah buah, lalu dibumbui dengan bumbu saus manis berbasis kacang, ya… seperti bumbu rujak.

“Gue masih sanggup makan ini sepiring lagi,” ujarku dengan mulut penuh makanan. Di belakangku, beberapa meter dari outdoor foodcourt di dekat Old City Hall tadi, adalah lautan luas. Wuiiih, kinda so perfect, kan? Menikmati makanan nikmat dengan ditemani sepoi sejuk angin sore dan pemandangan laut.

“Lu tuh badan doang yang kecil, taunya perutnya ganas,” Revan meledekku dengan puas.

Aku mencibir padanya. “Biarin, yang penting perut kenyang!”

Tiba-tiba di tengah tawa kami, handphone Revan yang diletakkan di atas meja bergetar. Aku bisa melihat jelas dengan ujung mataku, Revan mengangkat telepon itu dengan gerakan cepat.

“Hallo, Fen?”

Aku pura-pura sibuk menyendok makananku, tapi kupingku ternyata ada dalam keadaan siaga. Aku yakin yang menelepon Revan adalah… teman ceweknya yang tinggal di Queensbay itu! Aduh, kenapa perasaanku jadi tidak enak begini?

“Hah? Backpacker-an nya jadi diundur besok? Kenapa?” Revan bertanya dengan menggebu. Aku bisa melihat ada nada penuh harap dalam suara cowok itu.

“Oke, aku ke tempat kamu nanti sekitar jam tujuh, ya?”

Hatiku mencelos. Call me crazy! Seriously! Otakku pasti sedang tidak beres! Masa aku merasa tidak rela kalau malam ini cowok itu meninggalkanku jalan-jalan sendirian dan malah pergi bertemu si cewek itu?

“Gue mau ke China Town ama Little India. Temenin gue. Gue serem jalan sendirian,” celetukku begitu saja setelah Revan menutup teleponnya.

“Ummm, sorry, tapi gue nanti mesti…”

“Temenin, please. Gue takut nyasar,” kali ini otakku benar-benar tidak beres. Aku sadar itu. Tapi pernyataanku itu, bukan pertanyaan, refleks meluncur begitu saja. Rupanya otakku sedang bekerja lambat bak seekor siput.

“Tapi…”

“Temenin, please? Serem gue jalan sendirian, mana enggak tau jalan pula,” aku berkata tanpa melihat Revan yang sedang memandangku dengan bingung. “Gue seneng dan ngerasa nyaman jalan-jalan bareng lu.”

Jackpot! Kebodohanku sudah mencapai titik maksimal! Tapi… tidak ada salahnya bukan bila aku ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan cowok asing ini?

Revan menatapku dengan ekspresi tampak merasa bersalah. Ah, harusnya aku tidak memintanya menemaniku… karena…

“Sorry, Ryl… gue enggak bisa nemenin lu. Maaf banget… ada urusan yang harus gue beresin dulu…”

Tuh kan. Aku sudah tahu dengan jelas jawabannya.

Aku mengangguk pelan pada Revan. “Iya, enggak apa-apa,” ucapku dengan nada kecewa yang tidak sanggup aku sembunyikan.

***


Jam sepuluh malam.

Entah sudah berapa kali aku membolak-balikkan tubuh di atas tempat tidur dengan gelisah. Ini terlalu aneh. Perasaanku bagai berayun dari tempat yang sangat tinggi lalu jatuh ke tempat yang sangat rendah hanya karena seorang cowok asing yang mampir ke dalam episode hariku hari ini.

Tadi setelah dari George Town, Revan yang menolak ajakanku untuk menemaniku ke China Town dan Little India, mengantarku ke apartemen kakakku, lalu cowok itu buru-buru berpamitan. Iya, dia akan mengunjungi teman ceweknya itu.

Ah, lagi-lagi aku merasa tidak enak hati bila mengingat tentang cewek itu. Cewek yang sama sekali tidak kukenal, tapi berhasil mengganggu pikiranku.

“Makasih udah nemenin gue hari ini…”

Rangkaian kata-kata yang diucapkan Revan saat kami berada di depan pintu apartemen kakakku, diputar berulang-ulang di dalam benakku, hingga meninabobokanku menuju alam mimpiku malam ini. Di mimpiku, aku sedang berjalan seorang diri di suatu hamparan salju putih tanpa batas saat tiba-tiba muncul sosok Revan di hadapanku dengan tangannya yang terbentang lebar ke arahku. Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Apakah tangan-tangan itu hendak memelukku?

***

Jam enam pagi.

“Ryyyl, ini ada pesan buat kamuuu!”

Teriakan Kak Sara dari ruang tamu terasa nyaris menghancurkan gendang telingaku.

“Banguuuuun, Ryyylll!”

Teriakan itu semakin kencang, bahkan menggagalkan usahaku untuk meredam suara rebut-ribut itu dengan bantal.

“Banguuunnnnn!!!”

Aku memaksakan diri untuk duduk. “Iyaaa…” teriakku masih setengah tidak sadar. Aduh, kepalaku masih terasa sakit!

“Kamu udah punya temen disini, Ryl?” tanya Kak Sara yang tengah duduk di sofa ruang tamu sambil memoles beberapa helai roti dengan selai blueberry.

Mataku menyipit. Setengah karena mengantuk, setengah karena tidak mengerti apa yang sedang kakakku bicarakan.

“Tadi pas aku buka pintu apartemen buat buang sampah, ada kertas di bawah celah pintu.”

Aku masih roaming dengan ucapan Kak Sara.

“Ituuu,” ujar Kak Sara dengan gemas sambil menunjuk sehelai kertas di salah satu ujung meja. “Baca dulu makanya.”

Aku yang semula masih berdiri di depan pintu kamar, melangkahkan kakiku dengan terhuyung mendekati kertas yang dimaksud Kak Sara. “Ini apaan emang?” tanyaku pada Kak Sara yang hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.

Aku mengucek mata sebentar, lalu memperhatikan kertas itu dengan cermat. Oh, Tuhan! Rasanya jantungku akan melompat keluar dari rongga dadaku saat membaca tulisan di kertas yang sedang kupegang!

Hai, Sheryl.
Gue balik lagi ke apartemen kakak lu. Tapi gue enggak mencet bel-nya. Enggak enak, udah kemaleman, jam sebelas nih. Lu juga pasti udah tidur.
087816188401.
Itu nomer HP gue. Lu bisa hubungi gue kapan aja. Maksud gue, gue enggak mau dibilang lepas tanggung jawab soal HP lu yang rusak itu.


*Selesai*