Jangan Pergi Lagi, Andira!!!

Jangan Pergi Lagi, Andira…

by Pia Devina

 

"Andira?"

Aku menolehkan kepala, mencari sumber suara yang memanggil namaku. Suara yang familier. Suara yang selalu terdengar di alam bawah sadarku. Suara yang selalu kudamba untuk menjadi nyata... namun tak pernah menjadi nyata sebelumnya.

Di sana, dua meter di hadapanku, berdiri sesosok pria berperawakan tegap bersetelan jas hitam dengan kemeja putih dan dasi merah marun yang menggantung di lehernya. Di sana, lurus di depan mataku, lelaki itu menatapku dengan pandangan yang sama, bola mata yang sama, binar rindu yang sama.

Oh, Tuhan... seketika saja aku merasa duniaku ambruk. Detik dimana aku melihatnya lagi setelah hampir sepuluh tahun aku menguatkan diri untuk menjauh darinya, menjauh dari dunia yang sebenarnya ingin aku raih, membuatku tenggelam sekali lagi ke dalam jurang pilu yang mahaterjal.

Aku masih membeku saat lelaki itu berjalan perlahan menuju ke tempatku berdiri. Rasanya semua yang ada di sekelilingku dan dia berubah menjadi gambaran-gambaran buram, mengisolir kami dalam ruang hampa milik kami. Hanya aku dan dia. Berdua.

"Aku... aku mencarimu kemana-mana selama ini..." suara lelaki itu terdengar parau, seperti kesulitan untuk berkata-kata. Bola matanya yang kecokelatan, hidung mancungnya yang dulu seringkali kusentuh dengan ujung jemariku, alis tebalnya, rahangnya yang kokoh. Galih-ku.

Beberapa detik yang membuatku merasa seperi berlari dalam lintasan waktu seribu tahun itu pun akhirnya sanggup melumpuhkanku. Membuatku bergeming, tanpa kata. Yang kulakukan hanyalah menatapnya, menjadikannya satu fokus dalam kejaran waktuku. Aku hanya bisa menyesap semua rindu yang kumiliki untuknya. Rindu yang selalu menggedor-gedor hatiku tanpa henti.

"Kemana saja kau selama ini?" suaranya yang dalam seperti terbelenggu emosi yang membuncah di dadanya.

Ah, aku tahu betul apa arti raut mukanya saat ini. Aku sangat mengenal ekspresi ini semenjak aku baru masuk SMA. Lelaki di hadapanku ini akan berair muka seperti ini bila ia merasakan gejolak marah sekaligus rasa khawatir yang menggelegak menghantam dadanya.

"Aku takut kau kenapa-kenapa..."

Satu kalimat sederhana yang dulu seringkali dia ucapkan kepadaku, pacarnya yang ceroboh, yang bahkan saat berjalan saja sering terantuk-antuk saking cerobohnya. Dulu, tangan-tangannya yang kokoh selalu melindungi aku yang ceroboh ini. Dulu, dia selalu memberiku rasa aman. Ah… dulu…

"Dira... aku pikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi. Aku..." ucapannya terputus. Kedua telapak tangannya yang kini telah berada lembut di atas kulit kedua lengan tanganku terasa menyihirku, menyeretku ke dalam gelombang rindu yang semakin kuat, seperti arus tsunami yang seketika saja memberondong tubuhku.

Lelaki itu menatapku tak percaya, menggenggam lenganku seperti sedang menyentuh kristal kaca yang mudah pecah, namun di saat yang bersamaan ia ingin menggenggam lenganku itu dengan kuat seperti sedang menggenggam beton keras, memastikan aku tetap berada dalam genggamannya yang kokoh.

Hentakan-hentakan di dalam hatiku yang terpilin berhasil mengaktifkan kerja kantung air mataku. Tidak, aku tidak boleh menangis. Tidak di sini, tidak di acara gathering ini. Tidak di keramaian ini. Tidak di sudut convention hall di hotel yang penuh dengan orang-orang ini, walaupun kini aku dan Galih berdiri di salah satu ujung ruangan yang nyaris tidak terperhatikan keberadaannya.

"Dira..."

Galih masih memandangiku. Matanya berkilat sedih. Ada lapisan bening yang juga menggenangi matanya, membuat pandangan mataku semakin buram tersamar air mata yang sekuat tenaga kutahan agar tidak meleleh di pipiku.

"Aku merindukanmu, Dira..."

Pertahananku pun bobol seketika saat ia mengucapkan kalimat itu. Tanpa bisa kukendalikan, aku menghambur ke dalam pelukannya begitu saja, mengabaikan dunia yang sesaat lagi akan menjungkirbalikkan hidupku.

"Aku selalu ingin menemukanmu. Jangan pergi lagi, Andira… aku membutuhkanmu...”

Aku tidak menjawab. Wajahku masih tenggelam di dadanya yang selalu menghangatkanku. Detak jantungnya saat ini, yang beberapa tahun terakhir hanya menjadi fatamorgana dalam hari-hariku, sekarang begitu nyata adanya. Tak terbatas jarak.

Kenapa dulu kau menghilang begitu saja?"

Pertanyaan itu seketika saja membantingku ke dunia nyata, membuatku berlari menyusuri rentetan waktu... bertahun-tahun ke belakang. Aku pun kembali tersentak saat kenangan itu menyapaku. Aku melepaskan tubuhku dari dekapannya, membuatnya termangu bingung dengan apa yang kulakukan.